Rabu, 16 November 2011

Kisah Sesendok Madu




Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah iniadalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatuketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkanagar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendokmadu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncakbukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebutdan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatucara untuk mengelak, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu.Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mataseseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akandiisi madu oleh seluruh warga kota."

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejanaternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambilmembebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalamberbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam,memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi:"Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allahdisertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yangmengikutiku (QS 12:108)Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai daridirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian diamelibatkan pengikut-pengikutnya.

"Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali padadirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin(pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)Perhatikan kata-kata "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri." NabiMuhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudiansusulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin danbertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orangharus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikanbejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.

Pelita Hati - M. Quraish Shihab

Sabtu, 12 November 2011

Untuk Generasi Muda Shaleh Shalehah ..





Setelah itu, Mentoring ...





Rihlah Kali Ini ... (Sebuah Catatan dan Pesan)



Meniti Perjalanan Menuju Allah

“Meski telah lama kutinggalkan rimbunnya bambu, disetiap tiupan seorang gembala selalu kusenandungkan rintih kerinduan, agar semua pengembara yang melintasi ladang tahu; asal-muasalku dan apa arti keberadaanku.”

Ilahy, Engkau lah yang menjadikanku untuk sesuatu yang aku tak tahu kecuali setelah Engkau beri tahu; itupun tak mesti aku mengerti sepenuhnya, kecuali sekedar daya dan kapasitas yang Engkau berikan padaku untuk memahami. Jika bukan karena pertolonganMu, tidak mungkin aku tahu setitik debu pun; lantas bagaimana mungkin aku berani mendongak ke langit apalagi berani memanjatnya.



Ilahy, siapakah aku yang lahir dari setetes air kehinaan, muncul dari ketiadaan yang tak mungkin dibayangkan, lalu Kau angkat aku ke derajat paling mulia dari seluruh makhluq Mu, Kau tuntun aku meniti tingkat-tingkat cahaya, Kau ampuni setiap kesalahan yang aku lakukan selama aku masih menginginkan Mu; ya, aku menginginkan Mu, karena sesuatu yang sungguh aku tak tahu, kecuali sebatas apa yang Engkau beri tahu, dan pastilah Engkau sendiri yang menyematkan keinginan itu di hatiku, lalu membuatku menginginkan Mu, lantas bagaimana mungkin aku berani berkata-kata dihadapan Mu, kecuali sekedar sedikit kekuatan untuk menyebut nama Mu dengan tertatih, sembari menundukkan kepala dalam-dalam.



Ilahy, bagaimana debu ini mampu menemui Mu? Bagaimana aku mampu menyatakan aku mencintai Mu, sementara Kau sendiri yang menghembuskan cinta itu ke dalam hatiku sembunyi-sembunyi, Kau yang membuat aku mencintai Mu; tentu saja dengan cinta terbatas yang aku mengerti, sebagaimana pengertian yang Kau berikan padaku, dan pasti tak sepenuhnya aku bisa memahami. Engkau memang meliputi segala sesuatu, namun bagaimana mungkin aku berani mengatakan aku adalah Engkau, sebagaimana seorang anak kecil pun tahu bahwa setiap mawar adalah bunga, bukan setiap bunga adalah mawar. Maka, bagaimana debu ini mampu menyesap air laut Mu, kecuali sebatas tetes yang Kau tuangkan ke dalam mulut lancangku dan lidah hinaku; itupun sebatas daya sesapku yang pasti tak sepenuhnya aku bisa menyesap.



“Akhirnya ku duduk di sudut kecil ladang itu, menggigil dalam kerinduan, tertatih menyebut, “Ilahy … Anta Maqshudy … Wa Ridloka … Mathluby…”.”



Muhammad Zainur Rakhman, Mantyasih.