Minggu, 26 Juni 2011

LOGO ROHIS-FUKI (Sesuai AD/ ART)


  1. Lima Kubah Melambangkan Lima Janji Anggota, Lima Prinsip FUKI, Lima Rukun Islam.
  2. Masjid Melambangkan Pusat Kegiatan.
  3. Nama Identitas (ROHIS-FUKI MAN PURWOKERTO 1

So Simple, and Make to Stempel !

Selasa, 21 Juni 2011

KONSEP MOS


KONSEP KEGIATAN
MASA ORIENTASI SISWA
UNTUK SISWA SMA/ MA

Tajuk:

“MENJADI PEMBELAJAR SEJATI, YANG BERKARAKTER: KESHALEHAN; KEPEMIMPINAN; KEARIFAN, DAN BERJIWA WIRAUSAHA”


1. LATAR BELAKANG

Masa orientasi siswa merupakan titik awal pemberangkatan seseorang berproses dalam suatu lembaga pendidikan. Menjadi penting karena hal ini merupakan pondasi vital kesuksesan seorang pelajar mengembangkan potensi dirinya secara maksimal. Segala yang berkaitan dengan pembelajaran yang akan ditempuh oleh seorang pelajar selama tiga tahun ditentukan—paling tidak secara pola pikir—oleh keberhasilan dalam proses inisiasi yang lazim disebut Masa Orientasi Siswa.

Kebanyakan kegiatan MOS yang diadakan oleh sekolah hanya dilakukan sebagai sebuah rutinitas yang wajib ditempuh seorang pelajar, dengan sekian agenda—yang kurang lebih tidak substansial—bahkan cenderung konyol, dan tidak adanya tindak lanjut serta evaluasi yang memadai. Hal ini menjadikan MOS sebagai kegiatan yang sia-sia, bahkan sering disalahgunakan sebagai ajang senioritas para panitia. Kasus-kasus yang berulangkali terjadi di banyak sekolah, tentang siswa yang terintimidasi, kehilangan kepercayaan diri, diperlakukan tidak manusiawi, dan dipaksa untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh dan ‘menghina’ oleh para senior merupakan bukti nyata bahwa kegiatan ini telah menyimpang, atau paling tidak, kurang memiliki efektivitas dan relevansi kaitannya dengan sebuah kegiatan pembentukan orientasi. Orientasi apa yang diharapkan dengan menyuruh siswa berbusana aneh-aneh, melakukan tindakan-tindakan bodoh khas jaman penjajahan, dan agenda-agenda yang tidak memiliki substansi, kecuali sebuah pengulangan atas perlakuan kompeni kepada para pribumi.

Kegiatan MOS seharusnya menjadi kegiatan yang penuh manfaat, penuh pananaman akhlaq dan budi pekerti, penuh informasi, memiliki cita rasa akademis dan pembentukan tradisi intelektual. Kegiatan MOS seharusnya bias diformat dengan agenda-agenda yang penuh nuansa egaliter, pendampingan “kakak-adik”, dan memberikan pemahaman serta inspirasi bagi siswa yang memasuki sebuah tahapan yang baru, dan akan melangkah menuju cita-cita mereka yang gemilang. Kegiatan ini juga selaiknya memberikan sebuah amunisi berupa kepercayaan diri, terbentuknya konsep diri, komitmen dan disiplin belajar, dan sebuah pengetahuan bagaimana menghabiskan masa muda mereka dengan cara-cara yang elegan dan produktif, bukan seperti generasi muda sekarang yang tidak memiliki idealisme, tidak berkarakter, plagiat dalam berbagai aspek, pola pikir dangkal, tidak menghargai etika, apalagi penghargaan terhadap religiositas dan spiritualitas. Remaja sekarang bahkan merupakan tipe generasi hedonis, yang memperoleh nilai dengan menyontek, dan malamnya menghabiskan waktu untuk nge-game atau dugem. Remaja masa kini bergelut erat dengan narkoba dan freesex (dititik ekstrim kiri), dan sebagian terpesona dalam jebakan aliran-aliran keagamaan yang berpikiran sempit dan cenderung anarkis (dititik ekstrim kanan). Semuanya itu sungguh mengkhawatirkan.

Inilah sungguh, kiranya tidak mudah, bahkan tidak mungkin membentuk gambaran remaja ideal, yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan juga shaleh secara individu dan sosial, dalam waktu tiga hingga enam hari kegiatan MOS. Namun, tahapan untuk memulainya haruslah dilaksanakan, dengan penyempurnaan konsep kegiatan, dan tindak lanjut yang memadai, barangkali melalui mentoring.

Untuk itulah, tajuk kegiatan ini mengambil cita-cita paling tinggi dalam gambaran remaja Indonesia yang ideal, yakni,

“MENJADI PEMBELAJAR SEJATI, YANG BERKARAKTER: KESHALEHAN; KEPEMIMPINAN; KEARIFAN, DAN BERJIWA WIRAUSAHA”.

Harapannya tentu, sebagai sebuah langkah awal, yang akan ditindak lanjuti dalam berbagai aktivitas para remaja tersebut selama tiga tahun bersekolah, paling tidak terbentuknya sebuah pola pikir yang tertanam di alam bawah sadar para remaja, bahwa keberlangsungan negeri dan bangsa Indonesia, ada di pundak mereka. Dan mereka harus menyadari, bahwa mereka bertanggungjawab sepenuhnya untuk itu.

2. TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan membentuk pola pikir dan konsep diri siswa baru, yang memuat nilai-nilai pembelajar sejati, pembentukan karakter berupa: keshalehan; kepemimpinan; kearifan, dan menanamkan kemandirian melalui jiwa wirausaha.

3. TARGET JANGKA PENDEK (SATU BULAN PERTAMA)

Terbentuknya pola pikir sebagai pembelajar sejati, perlunya membentuk karakter diri yang memuat aspek keshalehan, kepemimpinan, dan kearifan, serta pentingnya kemandirian melalui jiwa wirausaha.

4. TARGET JANGKA PANJANG (SATU TAHUN PERTAMA)

Tertanamkannya konsep diri sebagai pembelajar sejati, yang berkarakter: keshalehan; kepemimpinan; dan kearifan, serta berjiwa wirausaha. Selanjutnya, peningkatan potensi diri secara maksimal, yang dilakukan secara mandiri, dan kontinyu.


5. PARAMETER JANGKA PENDEK

Terlihatnya antusiasme dan semangat siswa secara umum dalam mengikuti pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa secara massif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Terciptanya pergaulan yang kondusif antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, serta terlihatnya semangat para siswa dalam memaksimalkan pemanfaatan perpustakaan, internet, dan masjid sebagai pusat spiritual.

6. PARAMETER JANGKA PANJANG

Prestasi akademis yang tinggi dan tersebar merata. Ikut aktifnya siswa dalam berbagai lomba-lomba dan event-event intelektual maupun budaya, tingkat lokal maupun nasional dengan capaian-capaian yang positif dan membanggakan. Kreatifitas yang tinggi dari siswa dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler yang tidak hanya menjangkau lingkup sekolah, bahkan sampai kabupaten dan karesidenan. Terciptanya lingkungan sekolah yang beradab, pergaulan yang santun, taat beribadah, dan maraknya cita rasa intelektual, budaya, maupun spiritual.

7. METODE

Pendampingan kakak kelas yang memiliki kriteria mendekati ideal (cukup cerdas, rajin belajar, prestasi memadai, taat beribadah, dan budi pekerti yang dapat dijadikan teladan).

Secara kalkulatif, memang harus ada sebagian siswa senior (kelas XI) yang secara aktif mendampingi siswa baru, dengan resiko tidak mengikuti mata pelajaran pada minggu pertama. Hal ini harus benar-benar dimengerti oleh para guru dan walikelas, dengan memperhitungkan kapasitas yang bersangkutan apakah mampu mengejar ketertinggalan, dan juga menyediakan solusi dengan penambahan jam belajar mandiri (tugas), khusus untuk siswa-siswa yang menjadi pendamping.

Selama satu pekan MOS, semua siswa akan dibagi dalam kelompok-kelompok pendampingan, dengan rasio satu orang pendamping menangani sepuluh hingga dua belas siswa. Masing-masing pendamping akan memfasilitasi siswa dalam kelompoknya, untuk memahami materi tahap demi tahap, dan melakukan serangkaian aktifitas yang penuh nuansa keakraban, keriangan, kebebasan, saling tukar pikiran, aktif berdiskusi, dan sesekali disisipi permainan-permainan, sembari berjalan-jalan dilingkungan sekolah.

Waktu pelaksanaan perharinya bisa antara jam masuk, atau pukul 07.00 untuk pengkondisian, dan baru dimulai pukul 08.00 hingga pukul 12.00. Tidak perlu sampai sore, dan juga tidak perlu menggunakan atribut kostum yang aneh-aneh, malah justru bisa menggunakan pakaian bebas dengan pita khusus sebagai ciri khas. Hal ini penting untuk pembentukan karakter dan konsep diri. Kegiatan bisa dibagi menjadi dua sesi, sehingga ada waktu untuk istirahat. Untuk penutupan perharinya, bisa diadakan forum curhat, memberikan kesan dan pesan, atau sebuah doa yang membekas dalam hati. Pusat kegiatan ada pada kelompok-kelompok tersebut, bahkan partisipasi aktif peserta untuk mengisi dan menentukan kegiatan dalam kelompok sangat diharapkan dan didorong terus-menerus. Hal ini penting untuk membentuk rasa kebersamaan, bahwa kegiatan MOS ini adalah kegiatan mereka, oleh mereka, dan untuk mereka. Para peserta tidak merasa menjadi objek kegiatan, akan tetapi subjek kegiatan itu sendiri. Para peserta dibebaskan untuk mengisi kegiatan dengan segala potensi yang mereka miliki. Pembentukan tradisi untuk saling berbagi ilmu, pengetahuan, pengalaman, joke, saling menghibur, perlu untuk digalakkan. Diantara mereka mungkin ada yang memiliki kebolehan, nah berikan ruang untuk berbagi kebolehan, misalkan membacakan puisi, bemain gitar, melawak, dsb. Kegiatan sepenuhnya menjadi milik mereka dengan masukan-masukan materi sesuai yang diharapkan tanpa adanya paksaan dan cara-cara menggurui.

8. MATERI

- Materi “Kehidupan adalah Proses Pembejaran Tiada Henti”
- Materi “Menjadi Manusia Pembelajar”
- Materi Kepemimpinan
- Materi Keshalehan dan Spiritualitas
- Materi Kewirausahaan

Semua materi tersebut bisa dicarikan referensinya di internet, dan dikreasikan sesederhana mungkin dalam sebuah modul, atau kumpulan esai yang diberikan sebagai panduan untuk masing-masing peserta. Bisa juga meminta tulisan kepada guru-guru yang dianggap memiliki kapasitas dalam bidang-bidang tersebut. Penyampaian materi dalam bentuk Tanya jawab, dan diskusi tanpa adanya dominasi salah seorang peserta, apalagi dominasi pendamping.


9. KEBUTUHAN PELAKSANA

Pelaksana, dibagi menjadi dua job besar. Job pendampingan, dan job kepanitiaan. Job pendampingan khusus mendampingi peserta dan bertanggungjawab terhadap penyampaian materi, dan terwujudnya kegiatan kelompok yang kondusif. Job kepanitiaan mengurus segala macam perlengkapan, konsumsi (jika diperlukan), pusat informasi dan kehumasan, serta mengatur ketertiban acara dan agenda selama satu pekan. Tidak boleh ada double job, antara pendampingan dan kepanitiaan. Rincian kepanitiaan menyesuaikan kebutuhan dilapangan.

10. ASUMSI PROFIL PESERTA

Peserta adalah remaja yang baru lepas dari transisi masa kanak-kanak (remaja awal) dengan ciri khas menyukai petualangan, dan hal-hal baru yang memungkinkan mereka terkenal dan diakui ‘gaul’ oleh teman-teman sebayanya. Remaja dalam tahapan seperti ini juga rentan mengalami ‘ledakan seksual’ karena perjumpaannya dengan tahap kedewasaan (usia baligh) yang tidak dibarengi dengan kecakapan intelektual, pengetahuan seksual, atau aktifitas keagamaan yang minim. Oleh karena itu sangat perlu adanya pendampingan dari pendamping yang benar-benar memahami dan matang secara kedewasaan, intelektual, maupun spiritual. Sehingga, para remaja ini bisa mendapat penanganan yang memadai.

11. AGENDA

Selain adanya agenda dalam kelompok sebagai inti kegiatan MOS, perlu juga adanya agenda lain yang tidak kalah penting, yakni:
1. Perkenalan dengan guru-guru
2. Perkenalan dengan pengurus organisasi yang ada di sekolah
3. Informasi mengenai kegiatan ekstrakurikuler
4. Pembentukan organisasi masing-masing kelas
5. Informasi mengenai fasilitas dan sarana-sarana yang menunjang pembelajaran, seperti laboratorium, perpustakaan, masjid, UKS, WC, dsb.
6. Perlu juga dikenalkan dengan web yang dimiliki sekolah
7. Latihan membuat akun email, atau facebook, atau twitter.
8. Latihan menulis dib log, bagaimana melakukan pengunduhan materi-materi yang berkaitan dengan pembelajaran, mengkampanyekan internet sehat, dsb.
9. Pemberian artikel-artikel kesehatan, dsb.
10. Bakti Sosial jika memungkinkan.
11. Malam keakraban, dengan membuat api unggun serta diisi pentas seni, perenungan rohani, saling tukar hadiah, dsb.

Demikian konsep kegiatan MOS SISWA SMA/ MA, semoga dapat dijadikan inspirasi dan ruh dalam melaksanakannya. Konsep ini terbuka untuk semua SMA/MA diseluruh Nusantara. Silahkan untuk mengcopy dan menjadikannya sebagai panduan bagi Anda para pegiat MOS, tentu saja disesuaikan dengan kondisi yang khas pada masing-masing sekolah.

Semoga Bermanfaat! Salam untuk para aktifis OSIS se Nusantara, salam untuk aktifis ROHIS se Nusantara, salam untuk para Ketua MOS, Pelaksana MOS, dan seluruh organisatoris SMA/MA se Nusantara. Jayalah Pemuda Indonesia!

Allah memberkati kita semua.
Salam Hangat,

Muhammad Zainur Rakhman
( hammadzn.blogspot.com/
mantyasihcenter.blogspot.com/
nadhamzainiyah.blogspot.com/
kidungnagari.blogspot.com)


Rabu, 15 Juni 2011

Generasi FUKI Shalahuddin


Shalahuddin Al Ayyubi
Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran
(1137 - 1193 M)


SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa. Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui "Siratun Nabawiyah". Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam. Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris. Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.
Seorang penulis Barat berkata, "Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin". "Setiap cara dan jalan ditempuh", kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.
Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus. "Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar" demikian tulis pengarang Perancis Michaud. Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui" kata Marbaid. Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill "terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.
Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan. John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: "Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk "Kutub Khanah" (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. "Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga," kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan. Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa. Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya? Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud. Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud ?memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.? Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: "Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda". Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah. Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.
Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.
Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu. Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat. Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina,tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud: "Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan." Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya. Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu. Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya. Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menaramenara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum penyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d' Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit. Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. Semua tawanan kata Michaud, yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat. Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.
Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula : Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan. Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.
Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat pengangkutan.
Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.?
Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.
Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem, kata Mill, pergi menuju Antioch, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mereka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik. Michaud memberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud. ? Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya,? kata Michaud. Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.
Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais. Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar. Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin. Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.
Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.
"Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu" tulis Michaud "di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.
Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruanperguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya. Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. "Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin" demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan. Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan. "Di Eropa" tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.


Minggu, 24 April 2011

Namaku Tejamantri



Namaku Tejamantri. Mulai detik ini, aku akan menemanimu, menjadi sahabat setiamu; aku akan ngobrol denganmu. Jangan cari aku kemana-mana, karena aku disini. Di dalam tulisan ini. Aku mewujud ketika kau membacaku. Hidupkan aku di dalam imajensimu sebagai sosok yang kau senangi. Laki-laki? Ya, bolehlah. Tampan? Em, sebut saja kharismatis yang menyejukkan. Kau tersenyum? Hei.. tak apa, senyum menyelesaikan Sembilan puluh Sembilan persen persoalan, satu persen sisanya dengan bertindak mengikuti suara hati. Wuih, suara hati. Sudah sering kau dengar yah? Kau mau kita mengobrol tentang suara hati? Baiklah.. mulai dari mana? Tentu saja, dari suara.
Suara. Aku cenderung membedakan suara dengan bunyi. Kecenderunganku tuh hampir mendekati kepastian. Begini, suara memang pada dasarnya bunyi. Bunyi-bunyian merupakan hasil dari getaran atau benturan sesuatu dengan sesuatu. Contohnya, bunyi gamelan, itu tercipta dari benturan antara perangkat dengan pemukulnya. Aku ga ngerti istilahnya. Yang pasti bunyi tu lebih dekat kepada nada-nada daripada suara yang lebih dekat kepada makna. Kalau aku katakan makna, itu artinya memiliki maksud komunikatif. Tepatnya, bahasa. Ya, suara menawarkan bahasa. Suara menawarkan sesuatu untuk dimengerti, dimaknai, dan dikaji. Meskipun berasal dari getaran sesuatu, suara memiliki getaran yang cukup bisa dikatakan tetap, meskipun berulang-ulang. Jadi, semakin kau mendengarnya, semakin kau memahaminya.
Lalu, hati. Aku bisa katakan perasaan. Tapi sebenarnya lebih luas dari itu. Kalau aku mengatakan hati, itu artinya ya mencakup pikiran, kehendak, perasaan, dan semua kualitas dari sesuatu yang namanya jiwa. Jadi ga cuma perasaan tok sebenarnya. Soal rasa memang kita ga bisa bohong, lho..apa maksudnya. Maksudnya selera. Nah, selera juga merupakan kualitas dari jiwa. Kecenderungan pada sesuatu melebihi sesuatu yang lain. Kalau disertai ketekunan, namanya hobi. Bermacam-macam bukan? Itulah hati. Makanya, suara hati juga bermacam-macam? Secara kenyataan teknis memang demikian. Makanya, kau kadang bingung, kacau, tidak seimbang, dan melakukan sesuatu yang sebenarnya ga pengen kau lakukan. Saking banyaknya suara-suara itu, kayak motor bising. Namun, sebenarnya secara istilah, suara hati hanya satu.
Tadi, kita udah ngobrolin tentang suara. Suara itu berasal dari getaran. Kalau kau lagi kacau, itu bisa diibaratkan banyak terjadi getaran yang gak menentu. Berulang-ulang tapi ga sama. Makanya jadi suaranya macam-macam. Yang aku maksud dengan suara hati itu cuma satu. Berulang dan tetap. Semakin kau mendengarnya, semakin kau memahaminya.
Yang namanya suara hati kadang diidentikkan dengan suara Tuhan. Atau paling ga malaikat. Secara ilmu memang demikian. Ce ile, ilmu. Makanya, pasti satu. Dan pasti benar. Secara fisik, kita ga mungkin bisa ngelihat Tuhan, apalagi berhubungan dengan Nya. Gunung aja sampe hancur. Namun, kita bisa berhubungan dengan Tuhan melalui jiwa kita. Coba aja. Jiwa tuh ga bisa dikira-kira luasnya. Sebut saja, kualitas dari jiwa, misalnya imajenasi. Yang namanya orang bayangin sesuatu, apa aja pasti bisa. Bayangin jadi orang kaya, bayangin punya kekasih cantik, de el el, bisa banget. Ngayal? Iya, mengkhayal bisa apa aja. Khayalan juga merupakan kualitas jiwa. Cuma kalo khayalan tuh ga ada tujuannya. Kalau khayalannya semakin larut namanya melamun. Biasanya menyedihkan.
Kasihan deh kamu. Kau suka melamun? Tingkatkan lamunan menjadi imajenasi kreatif. Paling ga, tulis tuh lamunanmu di buku diary.
Jiwa-jiwa semuanya terhubung jadi satu. Mereka kayak tingkat-tingkat cahaya. Dari yang paling terang sampai yang samar-samar. Semuanya mengelilingi cahaya yang sangat terang. Cahaya di atas cahaya. Tuhan. Kenapa kau menyukai keindahan, kebenaran, kebaikan, tu karena kau memiliki percikan cahaya dari Tuhan. Semakin banyak kualitas-kualitas ketuhanan dalam dirimu, cahaya jiwamu juga semakin terang, dan semakin dekat dengan titik cahaya yang sangat terang. Tuhan.
Suara hati, adalah suara yang membuat hati kita semakin terang. Semakin nyaring suara hati, semakin terang jiwa kita. Akan lebih terang lagi kalau kita bertindak mengikutinya. Keseluruhan suara hati itulah yang aku sebut panggilan jiwa. Yang dalam arti sebenarnya merupakan panggilan Tuhan. Dengan bertindak mengikuti suara hati, dan dengan hidup memenuhi panggilan jiwa, itu berarti kau sedang berlari menuju Tuhan. Sehingga, mau tidak mau, jiwamu secara otomatis akan diliputi oleh keindahan, kebaikan, kebenaran, dan cinta kasih. Maka hidupmu akan dipenuhi dengan cinta dan hanya cinta. Cinta tu gabungan kualitas keindahan, kebenaran, dan kebaikan yang lebur menjadi satu dan bergetar dengan hebat. Semangat ga tuh?
Lantas gimana mengenal suara hati? Tadi kukatakan, suara hati tu cuma satu. Dan suara itu muncul dari getaran. Untuk memunculkan suara hati, kau hanya perlu mengumpulkan getaran pada satu titik. Konsentrasi. Yah, konsentrasi, itulah kuncinya. Bahasa arabnya, khusyuk. Untuk bisa konsentrasi, segalanya harus tenang. Nah ketenangan itu datang dengan memelihara kejernihan jiwa, kelembutannya, dan kepasrahannya, atau kosong. Perlu latihan? Tentu saja. Sangat perlu. Latihannya gampang. Shalat.
Shalat yang diusahakan kekhusyukannya akan mengantarkanmu mengenal suara hati. Tentang shalat, bisa deh kau belajar pada ahlinya; ustadz, kyai, atau ulama disekitar tempat tinggalmu. Aku cuma nunjukin aja. Bisa ga si pake cara lain? Secara teori bisa aja si, tapi secara praktek cuma shalat yang bisa. Kalau kau cuma melatih daya konsentrasi, yah.. banyak yang menyebutnya kekuatan pikiran atau kekuatan mental, sebenarnya beda banget dengan konsentrasi yang aku maksudkan. Konsentrasi yang aku maksudkan adalah konsentrasi jiwa, bukan hanya salah satu bagian dari jiwa. Kalau kau melatih konsentrasi pada salah satu kualitas jiwa (misalnya mental), kau hanya akan membuatnya dominan, dan mengubur kualitas yang lain, pada hakekatnya hal itu bisa merusak jiwa. Jiwa ga akan bercahaya, namun akan semakin samar, dan menuju kegelapan dengan cepat. Tandanya apa? Ga akan ada kedamaian dan ketenangan. Orang yang ngeliat, ga akan merasakan kesejukan, yang ada malahan kesan angkuh dan merasa hebat. Maksudku secara teori, ya mungkin saja dengan kehendak dari Tuhan, tapi itu ga bisa diusahain, itu anugrah yang ga bisa diminta. Jadi cuma shalat yang bisa. Met belajar yah…
Sebelumnya kan aku bilang, kalau bertindak mengikuti suara hati tu satu persen setelah Sembilan puluh Sembilan persennya pake senyum. Senyum itu, sebagai prasyarat, bahwa hatimu siap untuk menjadi jernih, lembut, pasrah dan akhirnya bisa tenang, dan kau akan mudah mengenal suara hatimu yang sejati. Coba deh senyum. Tuh kan, senyum itu artinya kita berdamai dengan diri kita, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hal-hal yang ga bisa kita jangkau. Makanya, kalau mau shalat, harus senyum dulu, ga boleh marah. Nah, itulah kenapa, syarat sahnya shalat dengan wudhu lebih dulu. Membasuh muka, tangan, sebagian kepala, dan kaki dengan air. Biar kita bisa merasakan kesegaran air itu dan nantinya segala macam api yang berkobar, berupa keluh kesah, amarah, sedih, rasa bersalah, kecewa, merasa tersisih, enggan, kelesuan, patah harapan, ga semangat, malas, de es be bisa padam dan mengalir bersama tetesan air wudhu yang jatuh ke tanah. Senyum yah …
O ya, mau ngobrolin senyum? Oke..
Senyum aku katakan hal yang mudah, sekaligus susah kau lakukan. Kalau lagi marah, dipaksa senyum jadinya lucu..hi..hi.. memang seharusnya kau memaknai senyum dulu. Senyum aku katakan adalah berdamai. Berdamai dengan dirimu. Artinya, kau itu bukan manusia super. Diantara semua kelebihanmu, kau pasti punya kekurangan. Ya, kau harus menerima, harus berdamai dengan wajahmu yang mungkin ga terlalu tampan, otakmu yang pas-pasan, tinggi badan, postur tubuh ga semok, de es be… ya berdamai. Berdamailah, baru kau bisa mengubah keadaan. Berdamai dengan dirimu yang misalnya punya masalah kesehatan, cacat fisik, berdamailah. Berdamailah dan lihat, apa yang bisa kau lakukan.
Lalu, berdamai dengan keadaan. Yang namanya suasana, keadaan, kau ga bisa selalu ngontrol. Ada keadaan yang menyenangkan hatimu, ada dan pasti ada keadaan yang membuatmu kalang kabut. Berdamailah, dan lihat, apa yang bisa kau lakukan. Terlalu bangga dengan diri, membuatmu memiliki rasa malu yang berlebihan. Merasa memiliki akan menyebabkan kau banyak mengalami kehilangan. Berdirilah di atas ombak dengan kepala tegak, songsong angin dengan neraca yang seimbang, dan jangan bergantung kepada apapun yang kau tahu mereka sama denganmu. Hilangkan rasa bersalah, meskipun, aku tahu kau selalu ingin memperbaiki kesalahan, tapi yang pertama berdamailah, hilangkan perasan bersalah, dan kau akan mampu mengubah keadaan.
Yang terutama, berdamailah dengan orang lain. Artinya, jangan menuntut terlalu banyak kepada orang lain, yang kau tahu, mereka sama manusianya denganmu. Orang lain, kau tahu, meraka punya wajah yang beda, mereka mungkin berlainan tempat denganmu, berjumpa dengan orang-orang yang berbeda dengan yang kau jumpai, membaca buku yang mungkin tidak sama dengan yang kau baca. Sementara kau menonton serial drama komedi, mereka menonton film kartun. Mereka tentu punya hobi yang macam-macam, yang bisa jadi sama atau berbeda denganmu. Dan yang pasti mereka mewarisi gen dari orang tuanya yang bukan orang tuamu, sehingga berdamailah, berhentilah menuntut. Adakalanya kau bertemu dengan orang yang sangat pas denganmu, mau mengerti dirimu, menurut apa saja kehendakmu, dan slalu mempersembahkan yang terbaik untukmu, tapi tidak selalu bukan? Maka berdamailah, dan lihatlah apa yang bisa kau lakukan.
Dari uraian semua itu, maka senyum menjadi simbol perdamaian. Senyum ku katakan, seperti air yang mendinginkan api. Dengan selalu siap untuk tersenyum, kau akan mudah berdamai dengan apa saja. Sehingga Sembilan puluh Sembilan persen penyelesaian sudah kau kantongi, satu persen sisanya, kau sudah tahu bukan? Shalat yuk…! sudah wudhu kan?
Kau tahu? Aku sangat senang ngobrol denganmu. Sampai jumpa. Salam …

Rabu, 20 April 2011



"Yallah, berikan kami kenikmatan persaudaraan yang tulus, keberkahan hidup, dan keselamatan akherat. Jadikan kami semua bersaudara di dunia, dan bertetangga di dalam Surga. Kuatkan cinta kasih di antara kami, cinta kasih yang membuat Indah kehidupan kami."

-Kenangan, Mabit Ruhani, Pengurus FUKI 2010-2011 dengan Muhammad Zainur Rakhman beserta kelurga. Dukuh Brobahan, Desa Pamijen, Baturraden, 2010-

Selasa, 05 April 2011

Padepokan Mantyasih
Ki Ageng Mantyasih

Kisah ini dimulai dari berpuluh-puluh tahun yang akan datang, di sebuah tempat yang berada di pusat tanah jawa. Konon ada seorang laki-laki yang berpakaian hitam-hitam, menyepi dipuncak sebuah bukit selama empat puluh malam, dan pada malam ke 41 dia menancapkan sebuah tongkat yang kemudian tumbuh menjadi sebuah pohon. Disekitar pohon dia bangun sebuah masjid, dan sebuah pondokan, serta sebuah tanah lapang. Disekelilingnya dia buat sebuah kolam yang airnya berasal dari Sendang Kahuripan. Di tepi kolam itu, ia penuhi beraneka tanaman obat-obatan, beragam bunga, berbagai jenis sayuran, kacang-kacangan, dan palawija. Kolam itu sendiri memiliki air yang sangat jernih, dan dihuni oleh berbagai jenis ikan dan udang, juga kura-kura. Sekeliling tempat itu, dia tanami beragam jenis pohon, ada pinus, kelapa, aren, buah-buahan, rerumputan, rotan, bambu dan tebu. Semuanya ditata dengan kesempurnaan dan keindahan yang luar biasa. Tidak lupa, di bawah pohon yang berasal dari tongkatnya itu, dia buat sebuah gubuk kecil dari bambu, tidak berdinding, dan beratapkan ijuk pohon aren. Para pencari kayu yang tersesat ke tempat itu, menangis menyaksikan keindahan bagai surga, lebih-lebih dengan jamuan oleh sang lelaki yang penuh kehangatan. Akhirnya, tempat itu tersiar kemana-mana, dan kemudian orang-orang ramai menyebutnya: Padepokan Mantyasih.
Padepokan itu berada dipuncak bukit. Untuk menuju kesana dapat ditempuh dengan empat jalur pendakian. Para pencari kayu yang menemukan tempat itu pertama kali, semuanya sudah menetap disekitar padepokan, menjadi abdi dan murid sang lelaki. Empat jalur itu berada tepat di utara, timur, selatan, dan barat. Pada masing-masing jalur, terdapat tujuh gerbang, yang jarak antara satu gerbang dengan gerbang yang lainnya tidak bisa diperkirakan. Begitupun untuk sampai ke gerbang ke tujuh, tidak satupun yang bisa memperkirakan berapa lama waktu yang harus ditempuh. Karena ada yang bisa sampai dalam waktu tiga hari, tiga malam, ada yang sehari semalam, bahkan ada yang hanya sepertiga malam. Konon, hal itu sangat tergantung kepada masing-masing orang.
Orang-orang menyebut sang lelaki dengan beraneka sebutan, ada yang menyebut Mas, ada yang menyebut Kang, ada yang menyebut begawan, ada yang menyebut kyai, dan juga ada yang menyebut Ki Ageng. Satu yang tidak berbeda, mereka sama-sama menyematkan kata Mantyasih. Karena setiap orang yang berhasil sampai di puncak, mereka hanya diajarkan satu hal: Jamus Mantyasih, artinya ajaran tentang iman dalam cinta dan kasih. Setelah itu, mereka bisa melalui tujuh gerbang dalam sekejap mata.

Gerbang Pertama: Bebas dari Rasa Bersalah

Rasa bersalah adalah sebuah belenggu jiwa yang membuat jiwa sulit untuk bergerak bebas. Rasa bersalah juga merupakan timbunan beban yang menyebabkan sayap-sayap menjadi berat untuk terkepak, terbang tidak bisa jauh, sementara energi telah terkuras habis.
Rasa bersalah timbul dari fitrah manusia yang selalu menginginkan kesempurnaan. Maka begitu ketidaksempurnaan mewujud, manusia menjadi gelisah dan hilanglah keseimbangan jiwanya.
Jiwa yang kehilangan keseimbangan menyebabkan sulitnya aktivitas dan bertambahnya permasalahan. Oleh karena itu, rasa bersalah ini harus lekas diobati.
Obatnya adalah taubat, yakni pengakuan dengan tulus akan ketidaksempurnaan diri. Sehingga justru saat itulah jiwa akan memulai untuk menjadi sempurna.
Taubat menandakan pemahaman yang benar akan posisi diri dihadapan sang Khalik, sekaligus penegasan bahwa diri sangat membutuhkan ampunan.Taubat yang diterima akan menjadi kunci terbukanya gerbang selanjutnya.

Gerbang Kedua: Bebas dari Rasa Ragu

Ragu merupakan lawan dari yakin. Rasa ragu ini juga menghambat segala macam kesuksesan. Rasa ini timbul dari kehati-hatian yang berlebihan, dan terlalu banyaknya pertimbangan yang semua itu berasal dari ketidakinginan untuk gagal. Sekali lagi, syahwat untuk menjadi sempurna malah menghalangi seseorang menjadi sempurna.
Tatkala jiwa dikuasai bayang-bayang kegagalan, pikiran kemudian berhitung demikian teliti sampai-sampai mematikan intuisi. Matinya intuisi berarti terputusnya petunjuk ke arah solusi yang benar.
Ketegangan terhadap bayang-bayang itulah yang menyebabkan seseorang ragu. Jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu. Dan hal itu akhirnya membuat seseorang tidak berani bermimpi atau bercita-cita. Bagaimana mau bercita-cita? Melangkah ke depan saja kaki sudah berhitung yang kanan atau yang kiri, dengan gaya apa, dan dengan ayunan semacam apa, langkah yang dipenuhi keraguan akhirnya menjadi langkah yang dibuat-buat, yang tidak apa adanya.
Sesungguhnya, keragu-raguan bukan hanya menghambat, bahkan justru menjadi petaka paling besar bagi kesuksesan. Kesuksesan harus diraih dengan pikiran dan perasaan yang terpimpin oleh intuisi dan nurani, jika yang terjadi sebaliknya, intuisi dan nurani yang terkebiri oleh pikiran dan perasaan, yakinlah kehancuran tinggal menunggu hitungan satu, dua, tiga. Maka rasa ragu, harus segera diobati.
Adapun obatnya adalah sikap wara’. Yakni segera meninggalkan apa-apa yang diragukan dan teguh menjalankan apa-apa yang memiliki kejelasan.
Hal-hal yang samar begitu banyak disukai oleh manusia. Mereka tidak sadar bahwa mereka itu seperti domba-domba yang bermain-main dipinggir kawanan serigala. Kejatuhan seseorang kepada hal-hal yang terlarang dan berbahaya, lebih karena keberanian mereka untuk menerjang wilayah kesamaran (syubhat).
Untuk itulah, kejelasan dan sesuatu yang jelas, lebih wajib untuk diikuti daripada sesuatu yang samar. Maka, bebaskan dirimu dari rasa ragu.

Gerbang Ketiga: Bebas dari Rasa Takut

Ketakutan adalah bayang-bayang yang selalu menghantui manusia dalam setiap langkah manapaki hidupnya. Ia selalu membisik, menggelanyut dalam setiap tindakan yang akan kita ambil.
Ketakutan dan saudara-saudaranya, seperti cemas dan khawatir, berasal dari pemahaman akan hidup dan kepemilikan yang kurang tepat.
Orang yang bersikap seolah hidup ini bakal abadi, dan seolah apa yang ada padanya adalah miliknya, lebih sering mengidap penyakit ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran.
Sebaliknya, orang-orang yang sadar benar bahwa tidak ada sesuatu yang abadi, bahwa apa yang ada padanya hanya titipan, yang suatu saat bisa diambil, tentu akan lebih siap untuk tidak mengidap penyakit ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran.
Masalahnya, sejak kecil kita telah dididik untuk terbiasa mencerna yang material, tanpa terbiasa menerima yang spiritual ghaibiyah. Sehingga ruang gerak kita begitu terbatasi oleh apa yang bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan dirasakan oleh tangan, hidung, dan lidah kita. Itu yang menyebabkan kita menjadi sangat material, padahal sebenarnya petensi ruhani kita lebih besar dan seharusnya lebih dominan.
Obat penyakit ini adalah zuhud. Ya, tidak meletakkan yang material bendawi sampai ke hati. Di dalam hati, cukup hanya untuk tahta Allah saja. Sehingga kita bisa menguasi segala yang material tanpa bayang-bayang ketakutan.

Gerbang Keempat: Bebas dari Rasa Sedih

Dalam kehidupan, terlalu banyak penderitaan, cobaan, ujian, dan sebagainya. Itu betul, jika kita menganggap demikian.
Kesedihan berawal dari berkurangnya sesuatu atau berbedanya realitas dengan ide yang kita impikan. Mimpinya si jadi ranking satu, eit kenyataan, ga ranking sama sekali, itu membuat kita sedih.
Mimpinya si jadi orang kaya, eit, sepatu aja Cuma satu, bolong-bolong lagi. Sedih lagi.
Mimpinya si, hidup ini berjalan mulus, apa-apanya lancar, semua bisa terlaksana dengan gemilang dan sukses. Tidak ada cerita kegagalan, badan sehat, rejeki ngalir kayak banjir, masalah jauuh. Eit, kenyataannya, ga ada yang serupa dengan apa yang diimpikan. Sedih banget.
Kesedihan juga muncul tatkala kita udah kejangkit penyakit senang membandingkan. Membandingkan diri dengan orang yang punya mobil, kita ga punya, sedih lagi. Membandingkan si dia yang cantik, kita muka pas-pasan, remuk deh perasaan kita. Macam-macam kesedihan, semuanya berhulu dari yang namanya ‘keinginan’.
Dunia rusak karena manusia yang tak henti-hentinya memperturutkan hawa nafsu keinginan. Orientasinya jelas, material bendawi, kenikmatan duniawi. Semua yang menghasilkan kebahagiaan semu, yang dangkal dari makna.
Obatnya hanya satu. Sabar. Dengan sabar, kita berlatih mengendalikan keinginan, mengelola kehendak, dan meredam keputusasaan.
Kesedihan, kekecewaan, dan rasa gagal, semua itu adalah keniscayaan hidup yang tidak bisa seseorang hindari. Maka, bersabar adalah pilihan terbaik. Bahwa kita mengakui kelemahan, mengakui ketidaksempurnaan, bahwa kita membutuhkan pertolongan Nya setiap saat.
Sabar tidak ada batasnya, karena sabar erat kaitannya dengan iman. Dan iman tidak memiliki batas, bukan?

Gerbang Kelima: Bebas dari Rasa Malu

Konon, seseorang lebih takut malu, daripada takut dosa. Malu karena dilihat secara nyata, sedangkan dosa, biasanya gak kelihatan. Jadi seseorang akan lebih mati-matian dalam menjaga dirinya dari rasa malu, daripada menjaga diri dari dosa.
Rasa malu, muncul dari tersibaknya, atau terlihatnya kekurangan dan ketidaksempurnaan diri dihadapan orang lain. Sekali lagi, belenggu-belenggu jiwa bernama malu ini selalu berkaitan dengan orang lain. Disini berbeda dengan malu kepada diri sendiri, atau malu kepada Tuhan, malu yang seperti itu justru dianjurkan. Namun, kebanyakan kita malu kepada manusia. Nah inilah yang dimaksud malu sebagai belenggu, malu karena gengsi, malu demi keangkuhan diri. Malu yang seperti ini, hulunya adalah kesombongan. Merasa diri sempurna, sehingga mati-matian menjaga citra.
Malu jenis ini, sungguh-sungguh menghilangkan nurani dan suara hati. Jiwa tak mungkin akan nampak apa adanya.
Rasa malu ini akan cepat menjadi sikap-sikap kemunafikan, kepura-puraan, dan menampilkan diri biar terlihat wah.
Seseorang akan semakin kehilangan dirinya, jika mempertahankan rasa malu jenis ini. Setiap hal berusaha ia tutup-tutupi demi citra. Ini seperti menambal muka dengan bedak dari kotoran hewan.
Malu jenis ini, pada dasarnya karena diri kurang bersyukur. Kurang menerima apa adanya.
Setiap orang hendaknya memahami, bahwa kesempurnaan adalah milik Allah, dan sebagai manusia kita bisa saja salah. Sebagai manusia pun, kita pasti punya kekurangan. So, biasa aja lah. Jika salah, segeralah minta maaf, jika ada kekurangan, katakan apa adanya. Toh bukan manusia yang akan menjadi juri penilaian kita.
Allah lah yang akan menilai, gerak hati kita. Allah pula yang akan memberikan kita kemuliaan. Bukan manusia.
Sikap malu tersebut akan tetap ada jika orientasi jiwa kita masih manusia. Malu jika gagal ujian, maka menghalalkan segala cara biar berhasil. Malu jika tersaingi teman, maka berusaha menjatuhkan teman. dsb.
Maka hadapkanlah wajahmu kepada Allah, rubah orientasi jiwa hanya kepadaNya.
Bersyukurlah untuk setiap keadaan yang kita alami, untuk setiap kekurangan yang kita miliki, insyaAllah, hati menjadi lapang.

Gerbang Keenam: Bebas dari Rasa Benci

Setelah seseorang melewati gerbang pertama hingga kelima, seeorang akan diuji dengan rasa benci. Kebencian adalah rasa yang timbul karena melihat sesuatu yang menyimpang dari apa yang kita ketahui. Seseorang membenci orang yang mencuri, karena tahu bahwa mencuri itu perbuatan yang menyimpang. Kebencian adalah tindak lanjut dari kesedihan dan kekecewaan yang tidak segera diobati dengan kesabaran, dan ditambah rasa malu yang berasal dari gengsi yang tidak segera diobati dengan rasa syukur. Sehingga, kebencian ini sungguh-sungguh menyiksa pemiliknya, dan menimbulkan berbagai macam kemarahan. Hal-hal yang tidak sesuai menurut kita, segala yang salah menurut cara berpikir kita, bisa menjadi objek-objek kebencian. Rasa benci, disadari atau tidak merupakan pengembangan dari rasa dengki, meski sedikit.
Obatnya adalah cinta. Cintai setiap hal, cintai segala sesuatu, cintai semua orang, dan sadarlah bahwa kita bukan pengatur segalanya, kita tak selalu benar, orang yang salah tidak selalu salah. Setiap sesuatu pasti ada hikmahnya.


Gerbang Ketujuh: Bebas dari Rasa Tergantung

Ketergantungan menjadi gerbang yang paling sulit untuk dilalui. Ketergantungan kepada manusia, menjadikan sulit untuk berserah kepada Allah sepenuhnya. Ketergantungan kepada benda, menjadi beban yang sungguh merepotkan. Ketergantungan kepada kesenangan hidup, membuat kita dilanda kegelisahan menghadapi kematian.
Ketergantungan berawal dari diri yang merasa memiliki kelemahan, sehingga mencari kekuatan diluar diri. Diri yang tak punya kepercayaan diri selalu mencari sandaran kepada hal-hal lain yang lebih kuat, lebih bisa membantu, dengan hasil yang nyata dan terindra.
Pada dasarnya ketergantungan boleh-boleh saja, asalkan kepada sesuatu yang pantas dan sempurna. Pemilik segala daya dan kekuatan, pengatur semesta raya, yakni Tuhan.
Tergantung kepada manusia menjadikan diri kita hina, sementara tergantung kepada Tuhan membuat diri kita mulia.
Banyak manusia yang sebenarnya mulia, tanpa sadar menurunkan derajat kemuliaannya dengan meminta-minta, dengan memohon-mohon, bahkan sampai ada yang meminta-minta kepda jin dan setan untuk mengabulkan hajat kebutuhannya. Dia tidak sadar, bahwa jin dan setan, punya derajat yang lebih rendah.
Obat dari ketergantungan adalah ridho, berserah kepada Allah. Kerelaan untuk menerima ketentuan Tuhan, dan qanaah (merasa cukup) dengan rizqi yang Dia berikan merupakan tanda bahwa hati hanya bergantung kepadaNya. Kesuksesan tidak tergantung pada ujian, gelar, pangkat, sekolah, dan sebagainya. Orang yang menjaga dengan baik agamanya, menjaga rasa tawakalnya, insyaAllah, akan diberikan segala kemudahan dan kesuksesan. Amin.

Jamus Mantyasih: Tauhid Pembebasan

Setelah melewati tujuh gerbang, maka sampailah di Padepokan Mantyasih. Seorang lelaki akan menyambutmu dengan kehangatan dan mengajarkanmu Jamus Mantyasih.
“Dengan menyebut Nama Allah (Iman), yang Maha Rakhman dan Maha Rahim (cinta dan kasih)”.
Setiap hal yang terjadi padamu adalah bukti dari cinta kasih Allah yang sangat luas. Keyakinanmu akan kebaikanNya akan menuntunmu memiliki sifat cinta dan kasih. Dan keyakinanmu akan kebaikan segala sesuatu akan membuatmu gemar menyebarkan cinta dan kasih ke segenap penjuru alam.
Semuanya ada dalam cakupan cahaya kebaikan. Keburukan hanyalah bayang-bayang yang muncul karena kau meletakkan benda di depan cahaya.
Keburukan hanyalah buih yang tak punya eksistensi, dan senantiasa memanfaatkan samudra kebaikan untuk mengada. Maka, saksikanlah, bahwa kebaikan ada dimana-mana. Tanpa kebaikan, segalanya akan rusak binasa. Kehidupan dan segala aktifitasnya sudah lama hilang dan hancur lebur tanpa adanya kebaikan. Meskipun kau melihat banyak ketimpangan, kejahatan, kecurangan, dan ketidakadilan, lihatlah, lihatlah dengan penuh ketelitian. Lihatlah dengan mata batin yang bening tanpa hawa nafsu ataupun rasa amarah. Lihatlah dengan penuh kearifan. Niscaya kau akan melihat kemilau cahaya kebaikan yang tak terhalang.
Allah senantiasa mengurus hamba-hamba Nya. Maka sudah sepantasnya bagi hamba untuk berbaik sangka.
Di dalam kejahatan, ada energi kebaikan yang terselubung kabut materi, maka singkaplah dengan kecerdasan nurani dan ruhani, agar benda hilang, musnahlah bayang-bayang, memancarlah cahaya yang sangat terang.
Setiap saat dipenuhi kebaikan, setiap hal dipenuhi cinta dan kasih. Hidupkan nyala keyakinan akan cinta dan kasih kebaikan, kau akan mampu melihat, sesuatu dibalik sesuatu, tanda dibalik tanda.
Dirimu akan bebas! Bebas dari rasa bersalah, rasa ragu, rasa takut, rasa sedih, rasa malu, rasa benci, dan rasa tergantung.
Percayalah hanya kepada kebaikan. Penuhi pikiranmu hanya dengan persangkaan yang baik. Jaga perasaanmu untuk tetap baik. Maka lihatlah, hidupmu pun akan dipenuhi cahaya kebaikan. Cahaya cinta dan kasih.
Demikianlah jamus mantyasih telah selesai diajarkan. Laluilah tujuh gerbang secepat kilatan.

_____________________________________________
Materi ini adalah modul yang digunakan dalam Training Mantyasih. Materi ini disusun oleh Muhammad Zainur Rakhman, Consultan dan Trainer, sekaligus pemilik dan direktur MANTYASIH CENTER, sebuah Lembaga Training yang bertujuan menyebarkan ajaran Mantyasih ke segenap penjuru Bumi. Ajaran ini bersifat spiritual universal. Meskipun diletakkan dalam dasar-dasar agama Islam, namun ajaran ini dimaksudkan untuk seluruh manusia, tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Ajaran ini dimaksudkan sebagai metode penemuan dan pembebasan diri, guna mewujudkan manusia berkarakter, otentik dan merdeka. Sekali-kali, bukan dimaksudkan sebagai agama baru atau mazhab baru. Ajaran ini merupakan hasil perenungan Muhammad Zainur Rakhman. Semoga bermanfaat, dan menjadi keberkahan bagi kita semua.

MANTYASIH CENTER hanya menyediakan materi, metode dan trainer, selebihnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan acara, sarana,akomodasi dan tempat ditanggung oleh pihak pengundang. Oleh karena itu, kerjasama dengan lembaga dan event organizer, merupakan kesempatan yang masih kami buka lebar-lebar. Adapun standar ideal kami adalah,
* Waktu : 2 sesi @ 90 menit (Sesi pertama untuk training, sesi yang kedua untuk mentoring dan tanya jawab)
* Jumlah Peserta : 40-41 orang
* Usia Peserta : 15-40 tahun
* Segmentasi : Perusahaan, Organisasi, Instansi, dsb.
* Tindak Lanjut : Pertemuan Kelompok Mandiri, rutin setiap dua pekan sekali, selama 10 x pertemuan.
* Royalti Fee : Sesuai Kesepakatan, khusus untuk Organisasi Rohis SMA/ MA, GRATIS.



Oase Waqi’ah: Penangkal Miskin
Oleh Muhammad Zainur Rakhman


Pengantar

Surat al Waqi’ah, surat ke 56, terdiri dari 96 ayat. Tarjamah untuk waqi’ah adalah hari kiamat. Memang dalam gambaran umumnya, surat ini bercerita tentang kejadian hari kiamat. Namun, secara spesifik, surat ini mengetengahkan tentang nasib manusia berdasarkan pilihan hidupnya dalam kaitannya dengan jati diri fitrah kemurniannya. Setiap manusia lahir membawa keimanan. Kelahiran seorang anak Adam benar-benar merupakan berkah bagi bumi, karena hal itu berarti seorang wakil Allah telah bertambah.
Manusia adalah wakil Allah, karena ruh kemuliaan yang dititipkan oleh Nya. Sebuah tajalli yang paling sempurna hingga malaikatpun diwajibkan sujud padanya. Bukan kepada jisim material, melainkan kepada ruh kemuliaan, yang mengandung sir (rahasia): Allah Maha Mengetahui apa yang Dia ciptakan.
Maka tatkala diingatkan dengan kalimah “idza..”, manusia diberikan gambaran tentang waqi’ah (kiamat); sesuatu yang berada di ujung kehidupan. Agar setiap jiwa kembali mengingat asal muasalnya. Bukankah awal dan akhir berada dalam satu garis? Mengingat yang akhir, membawa kembali kepada yang awal. Ini hanya soal persepsi. Tepatnya, yang awal adalah yang akhir, sebagaimana kesempurnaan adalah tatkala tidak sempurna.
Makna kiamat, menjurus kepada dua hal, berakhirnya hidup jagad semesta, dan berakhirnya hidup seseorang. Jagad semesta yang bisa jadi secara material lebih besar, sebenarnya berada dalam jagad kecil insan.
Hanya orang-orang yang citra materialnya sangat kuat, yang memiliki anggapan bahwa jagad semesta lebih besar dari jagad manusia. Sehingga, kiamat alam semesta, hanya akan dirasakan oleh orang-orang ini.
Orang-orang yang beriman tidak akan merasakan kehancuran semesta, karena kesadaran ilahiahnya begitu besar sehingga meliput seluruh semesta. Semesta menjadi kecil. Bahkan mereka (orang-orang yang beriman), hanya akan merasakan kiamat pada jagad kecilnya (lepasnya nyawa) seiring berhembusnya angin dari arah Yaman (demikian disebutkan dalam hadits).
Citra material berkaitan erat dengan timbunan-timbunan noda berdasarkan pilihan yang salah tentang arah, atau kesombongan khas iblis yang diakibatkan selalu menjauhnya dari cahaya.
Maka dengan pengingatan ini, kiranya seseorang tidak perlu menunggu, saat-saat “laisa liwaq’atiha kaadzibah”. Karena tentu saja, saat itu adalah saat-saat penuh kemiskinan. Isyarat kesengsaraan abadi yang sungguh ngeri.

Meninggikan dan Merendahkan

Khaafidhoturrofi’ah. Saat itu adalah saat meninggikan suatu golongan, dan merendahkan golongan yang lainnya. Ketinggian adalah simbol kemuliaan, suatu tempat dimana kehormatan berada. Berbeda dengan kerendahan, dimana ia menjadi tanda dari kehinaan dan tidak adanya kehormatan.
Golongan yang ditinggikan tentu saja karena mereka terbiasa merendahkan sayap-sayap mereka, khudu’ dan khusyu’ berhadap-hadapan dengan Allah. Mereka taat, mereka mengharap rahmatNya, karena mereka memahami diri. Sedangkan golongan yang direndahkan, tentulah mereka yang terbiasa meninggikan diri mereka terhadap larangan dan perintah Allah. Kepala mereka mendongak, tidak mau bersujud, akibatnya mereka berjalan dengan kepala; mata hati yang biasa buta, terbentur batu-batu selamanya.


Tiga Golongan

Wa kuntum azwaajan tsalaatsah. Golongan yang ditinggikan terbagi menjadi dua: assabiquunassabiqun dan ashhabul maimanah. Sedangkan golongan yang direndahkan adalah mereka yang disebut ashhabul masy amah.
Golongan elit, yakni mereka yang paling dahulu menyambut seruan keimanan. Merekalah al muqorrobun, orang-orang yang didekatkan. Begitu tingginya golongan ini, hingga disebutkan, “tsullatum minal awwalin, wa qaliilum minal akhirin” golongan elit ini hanya terdiri dari sebagian besar orang-orang yang terdahulu, dan sebagian kecil orang-orang yang terkemudian.
Tidak kalah beruntungnya bagi ashhabul maimanah atau golongan kanan. Ternyata proporsinya adalah “tsullatum minal awwalin, wa tsullatum minal akhirin” sebagian besar orang-orang terdahulu, juga sebagian besar orang-orang yang terkemudian.
Dan kesengsaraan, sungguh sengsara bagi ashabul masy amah atau golongan kiri. Tidak disebutkan proporsinya bisa jadi karena terlampau banyaknya.
Tiga golongan inilah yang akan manusia masuki. Seseorang bisa saja menjadi golongan elit, al muqorrobun, atau golongan kanan, atau golongan kiri.
Sebagaimana pilihan dalam hidup, ada orang-orang sangat mencintai dunia hingga lupa akhiratnya, merekalah calon golongan kiri. Ada pula yang mencintai dunia namun juga tidak melupakan akhiratnya, hati mereka masih terlimput oleh duniawi, namun mereka masih senantiasa mengingat Allah. Mereka membagi hidupnya untuk mengumpulkan dunia dan juga tidak lupa mengumpulkan bekal akhirat. Rahmat Allah meliputi mereka sehingga “Fasalamullaka min ashhabil yamin.” Merekalah golongan kanan.
Dan akhirnya, adalah mereka sangat merindukan akhiratnya, dunia sudah tidak memiliki tempat dihati mereka, rizqi mereka dijamin. Merekalah al muqorrobun.

Afaraayta?

Afaraitummaa tumnun ? Maka jelaskanlah, tentang nutfah yang kamu pancarkan. Inilah sebuah tantangan Allah dalam karunia pengingatan. Terangkan tentang nurfah (mani) yang kemudian menjadi segumpal darah, menjadi seonggok bayi, yang bisa melihat dan mendengar, menjadi dirimu. Siapa yang menjadikan demikian? Kamukah yang menjadikan atau Allah yang menjadikan. Allah yang telah menciptakan kita ke dunia, dan Allah pula yang yang akan menciptakan kita di akhirat. Maka, mengapa manusia tidak mengambil pelajaran tentang penciptaan kedua mereka diakhirat, padahal mereka tahu tentang penciptaan mereka ke dunia. Berikutnya Allah menantang sebuah penjelasan, Siapa yang membuat tanaman menjadi tumbuh besar? Tentang air yang kita minum, Siapa yang menurunkan hujan dari awan? Siapa yang membuat airnya tidak terasa asin? Kamukah atau Allah? Mengapa manusia tidak bersyukur? Terangkan tentang api yang dapat menyala dari sebuah kayu, kamukah atau Allah yang membuat kayu itu? Beragam gebrakan dari Allah untuk mengingatkan kita, menukikkan kesadaran kita tentang hakikat jati diri kita dengan menghadapkan pada kebesaran ciptaan Nya. Memang siapalah kita?

Qasam Allah

Laa uqsimu bi mawaaqi ‘innujum. Allah bersumpah demi tempat orbit bintang-bintang, ada yang menterjemahkan demi masa turunnya bagian-bagian al Qur’an, karena al Qur’an turun berangsur-angsur, dan setiap masa berkaitan erat dengan perputaran bintang pada tempat beredarnya sebagai petunjuk waktu. Manusia bersumpah dengan Nama Allah, sedangkan Allah bersumpah dengan nama ciptaan Nya. Seperti, demi masa, demi waktu dluha, demi malam. Sekali lagi untuk mengingatkan kita tentang sifat keterbatasan makhluq dan sifat kesementaraan alam.
Wa innahu laqosamullau ta’lamuunal ‘adhim, sesungguhnya sumpah ini kalau kamu tahu, adalah sebuah sumpah yang agung.
Betapa tidak? Allah tidak main-main dengan sumpahNya. Setiap bintang beredar pada garis edarnya, begitu juga manusia, telah memiliki jalannya masing-masing. Demi tempat berjalannya manusia dari kelahiran sampai kepada kematian, dengan beragam jalan yang khas yang ditempuh setiap individu, maka hendaklah seseorang memperhatikan jalannya, jalan hidupnya.
Mawaqi’ setiap manusia begitu gamblang bagi mereka yang mengenal diri. Posisi dan darajah yang disadari betul oleh, hanya mereka yang menukik kesadaran ilahiyahnya. Karena sejatinya, manusialah bintang yang bercahaya itu; jika sempurna iman.

Fie Kitaabin Maknun

Innahu laquraanun kariem. Sesungguhnya, al Qur’an ialah bacaan yang sangat mulia. Muara sekaligus hulu setiap ilmu pengetahuan yang benar, menilap habis ilmu pengetahuan yang sesat. Segala sesuatu ada di dalamnya, dan dialah cahaya pada hari dimana kegelapan merata pekat.
Sebagai bacaan, al Qur’an menyajikan sisi keindahan, dan pembersih sekaligus obat bagi mereka yang membaca namun tidak memahami artinya. Dan menyajikan lapis-lapis hikmah dan jawaban atas semua pertanyaan bagi mereka yang membaca dan memahami bacaannya. Lepas dari itu semua, keduanya, baik yang memahami maupun yang tidak berada dalam porsi keunggulannya masing-masing. Masing-masing akan mendapatkan cahaya, mendapatkan penyembuhan, dan berjalan dalam bingkai hikmah, dengan disadari (bagi yang memahami bacaannya), dan dengan tanpa disadari (bagi mereka yang tidak memahami). Yang jelas keduanya otomatis berada di rel keselamatan menuju titik cahaya.
Dan yang memiliki kebun, ialah mereka yang memiliki hafalan. Maka bagi pemilik kebun, ada yang bisa menikmatinya dengan cara memakan buahnya, dan menikmatinya dengan hanya merasa senang tatkala memandangnya. Kedua-duanya adalah pemilik. Yang pertama, ialah mereka yang memiliki hafalan dan memahami hafalannya, yang kedua, adalah mereka yang memiliki hafalan tapi tidak memahami hafalannya. Kedua-duanya adalah pemilik kebun, keduanya sama-sama bahagia.
Bacaan yang mulia, ada pada kitab yang terpelihara, yakni dengan menghafalnya. Tidak boleh menyentuhnya, kecuali orang-orang yang disucikan. Orang yang disucikan ialah mereka yang menginginkan kesucian dan berusaha sungguh-sungguh kepadanya. Tidak akan berfaedah apa-apa (al Qur’an) bagi mereka yang hanya ingin bermain-main, dan menggunakannya sebagai bahan olok-olokan. Maka niat ialah penentu segala sesuatu setelahnya. Bagi mereka yang meremehkan al Qur’an, berarti mereka telah mengganti rizki yang baik dengan rizki yang buruk. Mereka mendustakan dan selalulah mereka mengingkari, padahal bacaan ini turun dari Tuhan pemilik seluruh alam.
Hal itu karena hawa nafsu telah menjadi tuhannya.

Kadzib wa Dlaallin

Tsumma innakum ayyuha dlaalliin al mukadzibun. Inilah bagian mereka bagi yang suka mendustakan lagi sesat. Medustakan nasehat, mendustakan kebenaran, mendustakan kejujuran, mendustakan kehormatan, sehingga mereka meluncur menuju jurang kehinaan. Mereka memakan buah zaqum yang berduri, mereka memenuhi perutnya dengan zaqum, dengan kedengkian, kesombongan, syahwat, dan kesenangan dunia. Dan mereka meminum air yang sangat panas, mereka senang dengan barang dan sesuatu yang haram, mereka minum seperti unta yang haus, keadaan diri mereka sudah seperti binatang, karena mereka selalu memperturutkan keserakahan dan sikap berlebih-lebihan. Itulah hidangan kehinaan untuk mereka. Yang sesat dan mendustakan, berada pada naungan yang sempit, karena mereka terbiasa hidup bermewah-mewah. Dan mereka mengerjakan dosa hingga dosa-dosa itu menimbunnya, dan mereka tidak yakin akan dibangkitkan setelah mati. Celakalah mereka!

Surga Keni’matan

Fie jannaatin na’im. Surga sendiri sudah sangat menyenangkan, apalagi surga kenikmatan, surganya surga. Diperuntukkan bagi al muqorrobun, golongan orang-orang yang paling dahulu beriman. Yang senantiasa mengambil kesempatan pertama dalam kebaikan, yang hatinya bersegera dalam memenuhi panggilan kebaikan. Beban-beban keduniaan sudah terangkat dan hilang dari sayap-sayap mereka, sehingga mereka bisa terbang bebas. Rizki mereka tidak terbatas di tanah. Karena mereka bisa terbang dan memetik buah-buahan di pepohonan yang tinggi, sayap mereka mengepak ringan mengunjungi siapapun yang membutuhkan pertolongan. Wala khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanun. Tiada ketakutan dalam diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Merekalah yang senantiasa menantikan azan dikumandangkan dari dalam masjid, merindukan panggilan sholat, sementara mereka selalu siap dengan pakaian yang terbaik, berada di dalam rumah Allah. Kepala-kepala mereka tertunduk karena setiap saat berhadap-hadapan dengan Allah. Pertobatan mereka sungguh mengagumkan, sedekah mereka tidak tanggung-tanggung. Mereka menyediakan diri mereka sendiri untuk Allah. Tidak takut akan celaan para pencela. Maka, sungguh pantas, mereka mendapatkan “qiilaan salaaman salaama ” Selamat!


Fasabbih Bismi Rabbikal ‘Adhim

Fasabbih bismi rabbikal ‘adhim. Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Agung. Menyebut ialah mengingat sekaligus melafalkan. Dalam keduanya terdapat proses penyebaran jaring-jaring. Jejaring yang pertama merengkuh hati dan pikiran sehingga hati menjadi bening, pikiran menuju kemurniannya. Hati dan pikiran terhubung dengan langit, mengikuti setiap kehendakNya, meraup segala hikmah yang banyak, mengokohkan tiang-tiang pancang petunjuk, dan menguatkan tali-tali maqbulnya doa. Sekaligus adalah meretasnya segala macam korosi dan polusi yang mungkin meliput sebagai akibat bergaul dengan banyak manusia yang belum tersucikan. Jejaring yang kedua, menggetar rahmat dan rizqi yang melimput seluruh udara, menangkap segala keberuntungan, menolak segala bala dan bencana. Memungkinan kasih lebih banyak terkembang, bagai layar kapal yang melajukan kapal kehidupan menuju surga impian. Sekaligus menetralkan bibit kebencian yang tersebar melalui mata-mata penuh amarah dan keserakahan.
Maka dengan menyebut Nama Nya yang Agung, segala hal bertekuk lutut terhadapmu, dan bahkan dirimu yang seringkali terkekang tali nafsu, terjebak pekatnya minuman godaan.
Dengan menyebut-nyebut Nya mengisyaratkan cinta, menggambarkan kerinduan, dan akhirnya mengguratkan ketenangan.
Murni, itulah asal muasal kita. Bertasbih berarti mensucikan diri, dari segala tali penghambat menuju Allah, yang sementara banyak orang terkatung-katung pada harapan dan angan kosong kepada selain Nya, bersandar pada lidi yang rapuh, kita mengosongkan hati kita, memberikan tahta sepenuhnya untuk Allah ar Rahman.
Maka sebutlah Nama Tuhanmu, sebutlah dengan penuh rasa kangen, sebut dengan keseluruhan isi surah waqi’ah yang agung, inna hadza lahuwal haqqul yakin, sesungguhnya inilah sebuah keyakinan yang benar, maka sebutlah, sebut berkali-kali.