Selasa, 05 April 2011

Oase Waqi’ah: Penangkal Miskin
Oleh Muhammad Zainur Rakhman


Pengantar

Surat al Waqi’ah, surat ke 56, terdiri dari 96 ayat. Tarjamah untuk waqi’ah adalah hari kiamat. Memang dalam gambaran umumnya, surat ini bercerita tentang kejadian hari kiamat. Namun, secara spesifik, surat ini mengetengahkan tentang nasib manusia berdasarkan pilihan hidupnya dalam kaitannya dengan jati diri fitrah kemurniannya. Setiap manusia lahir membawa keimanan. Kelahiran seorang anak Adam benar-benar merupakan berkah bagi bumi, karena hal itu berarti seorang wakil Allah telah bertambah.
Manusia adalah wakil Allah, karena ruh kemuliaan yang dititipkan oleh Nya. Sebuah tajalli yang paling sempurna hingga malaikatpun diwajibkan sujud padanya. Bukan kepada jisim material, melainkan kepada ruh kemuliaan, yang mengandung sir (rahasia): Allah Maha Mengetahui apa yang Dia ciptakan.
Maka tatkala diingatkan dengan kalimah “idza..”, manusia diberikan gambaran tentang waqi’ah (kiamat); sesuatu yang berada di ujung kehidupan. Agar setiap jiwa kembali mengingat asal muasalnya. Bukankah awal dan akhir berada dalam satu garis? Mengingat yang akhir, membawa kembali kepada yang awal. Ini hanya soal persepsi. Tepatnya, yang awal adalah yang akhir, sebagaimana kesempurnaan adalah tatkala tidak sempurna.
Makna kiamat, menjurus kepada dua hal, berakhirnya hidup jagad semesta, dan berakhirnya hidup seseorang. Jagad semesta yang bisa jadi secara material lebih besar, sebenarnya berada dalam jagad kecil insan.
Hanya orang-orang yang citra materialnya sangat kuat, yang memiliki anggapan bahwa jagad semesta lebih besar dari jagad manusia. Sehingga, kiamat alam semesta, hanya akan dirasakan oleh orang-orang ini.
Orang-orang yang beriman tidak akan merasakan kehancuran semesta, karena kesadaran ilahiahnya begitu besar sehingga meliput seluruh semesta. Semesta menjadi kecil. Bahkan mereka (orang-orang yang beriman), hanya akan merasakan kiamat pada jagad kecilnya (lepasnya nyawa) seiring berhembusnya angin dari arah Yaman (demikian disebutkan dalam hadits).
Citra material berkaitan erat dengan timbunan-timbunan noda berdasarkan pilihan yang salah tentang arah, atau kesombongan khas iblis yang diakibatkan selalu menjauhnya dari cahaya.
Maka dengan pengingatan ini, kiranya seseorang tidak perlu menunggu, saat-saat “laisa liwaq’atiha kaadzibah”. Karena tentu saja, saat itu adalah saat-saat penuh kemiskinan. Isyarat kesengsaraan abadi yang sungguh ngeri.

Meninggikan dan Merendahkan

Khaafidhoturrofi’ah. Saat itu adalah saat meninggikan suatu golongan, dan merendahkan golongan yang lainnya. Ketinggian adalah simbol kemuliaan, suatu tempat dimana kehormatan berada. Berbeda dengan kerendahan, dimana ia menjadi tanda dari kehinaan dan tidak adanya kehormatan.
Golongan yang ditinggikan tentu saja karena mereka terbiasa merendahkan sayap-sayap mereka, khudu’ dan khusyu’ berhadap-hadapan dengan Allah. Mereka taat, mereka mengharap rahmatNya, karena mereka memahami diri. Sedangkan golongan yang direndahkan, tentulah mereka yang terbiasa meninggikan diri mereka terhadap larangan dan perintah Allah. Kepala mereka mendongak, tidak mau bersujud, akibatnya mereka berjalan dengan kepala; mata hati yang biasa buta, terbentur batu-batu selamanya.


Tiga Golongan

Wa kuntum azwaajan tsalaatsah. Golongan yang ditinggikan terbagi menjadi dua: assabiquunassabiqun dan ashhabul maimanah. Sedangkan golongan yang direndahkan adalah mereka yang disebut ashhabul masy amah.
Golongan elit, yakni mereka yang paling dahulu menyambut seruan keimanan. Merekalah al muqorrobun, orang-orang yang didekatkan. Begitu tingginya golongan ini, hingga disebutkan, “tsullatum minal awwalin, wa qaliilum minal akhirin” golongan elit ini hanya terdiri dari sebagian besar orang-orang yang terdahulu, dan sebagian kecil orang-orang yang terkemudian.
Tidak kalah beruntungnya bagi ashhabul maimanah atau golongan kanan. Ternyata proporsinya adalah “tsullatum minal awwalin, wa tsullatum minal akhirin” sebagian besar orang-orang terdahulu, juga sebagian besar orang-orang yang terkemudian.
Dan kesengsaraan, sungguh sengsara bagi ashabul masy amah atau golongan kiri. Tidak disebutkan proporsinya bisa jadi karena terlampau banyaknya.
Tiga golongan inilah yang akan manusia masuki. Seseorang bisa saja menjadi golongan elit, al muqorrobun, atau golongan kanan, atau golongan kiri.
Sebagaimana pilihan dalam hidup, ada orang-orang sangat mencintai dunia hingga lupa akhiratnya, merekalah calon golongan kiri. Ada pula yang mencintai dunia namun juga tidak melupakan akhiratnya, hati mereka masih terlimput oleh duniawi, namun mereka masih senantiasa mengingat Allah. Mereka membagi hidupnya untuk mengumpulkan dunia dan juga tidak lupa mengumpulkan bekal akhirat. Rahmat Allah meliputi mereka sehingga “Fasalamullaka min ashhabil yamin.” Merekalah golongan kanan.
Dan akhirnya, adalah mereka sangat merindukan akhiratnya, dunia sudah tidak memiliki tempat dihati mereka, rizqi mereka dijamin. Merekalah al muqorrobun.

Afaraayta?

Afaraitummaa tumnun ? Maka jelaskanlah, tentang nutfah yang kamu pancarkan. Inilah sebuah tantangan Allah dalam karunia pengingatan. Terangkan tentang nurfah (mani) yang kemudian menjadi segumpal darah, menjadi seonggok bayi, yang bisa melihat dan mendengar, menjadi dirimu. Siapa yang menjadikan demikian? Kamukah yang menjadikan atau Allah yang menjadikan. Allah yang telah menciptakan kita ke dunia, dan Allah pula yang yang akan menciptakan kita di akhirat. Maka, mengapa manusia tidak mengambil pelajaran tentang penciptaan kedua mereka diakhirat, padahal mereka tahu tentang penciptaan mereka ke dunia. Berikutnya Allah menantang sebuah penjelasan, Siapa yang membuat tanaman menjadi tumbuh besar? Tentang air yang kita minum, Siapa yang menurunkan hujan dari awan? Siapa yang membuat airnya tidak terasa asin? Kamukah atau Allah? Mengapa manusia tidak bersyukur? Terangkan tentang api yang dapat menyala dari sebuah kayu, kamukah atau Allah yang membuat kayu itu? Beragam gebrakan dari Allah untuk mengingatkan kita, menukikkan kesadaran kita tentang hakikat jati diri kita dengan menghadapkan pada kebesaran ciptaan Nya. Memang siapalah kita?

Qasam Allah

Laa uqsimu bi mawaaqi ‘innujum. Allah bersumpah demi tempat orbit bintang-bintang, ada yang menterjemahkan demi masa turunnya bagian-bagian al Qur’an, karena al Qur’an turun berangsur-angsur, dan setiap masa berkaitan erat dengan perputaran bintang pada tempat beredarnya sebagai petunjuk waktu. Manusia bersumpah dengan Nama Allah, sedangkan Allah bersumpah dengan nama ciptaan Nya. Seperti, demi masa, demi waktu dluha, demi malam. Sekali lagi untuk mengingatkan kita tentang sifat keterbatasan makhluq dan sifat kesementaraan alam.
Wa innahu laqosamullau ta’lamuunal ‘adhim, sesungguhnya sumpah ini kalau kamu tahu, adalah sebuah sumpah yang agung.
Betapa tidak? Allah tidak main-main dengan sumpahNya. Setiap bintang beredar pada garis edarnya, begitu juga manusia, telah memiliki jalannya masing-masing. Demi tempat berjalannya manusia dari kelahiran sampai kepada kematian, dengan beragam jalan yang khas yang ditempuh setiap individu, maka hendaklah seseorang memperhatikan jalannya, jalan hidupnya.
Mawaqi’ setiap manusia begitu gamblang bagi mereka yang mengenal diri. Posisi dan darajah yang disadari betul oleh, hanya mereka yang menukik kesadaran ilahiyahnya. Karena sejatinya, manusialah bintang yang bercahaya itu; jika sempurna iman.

Fie Kitaabin Maknun

Innahu laquraanun kariem. Sesungguhnya, al Qur’an ialah bacaan yang sangat mulia. Muara sekaligus hulu setiap ilmu pengetahuan yang benar, menilap habis ilmu pengetahuan yang sesat. Segala sesuatu ada di dalamnya, dan dialah cahaya pada hari dimana kegelapan merata pekat.
Sebagai bacaan, al Qur’an menyajikan sisi keindahan, dan pembersih sekaligus obat bagi mereka yang membaca namun tidak memahami artinya. Dan menyajikan lapis-lapis hikmah dan jawaban atas semua pertanyaan bagi mereka yang membaca dan memahami bacaannya. Lepas dari itu semua, keduanya, baik yang memahami maupun yang tidak berada dalam porsi keunggulannya masing-masing. Masing-masing akan mendapatkan cahaya, mendapatkan penyembuhan, dan berjalan dalam bingkai hikmah, dengan disadari (bagi yang memahami bacaannya), dan dengan tanpa disadari (bagi mereka yang tidak memahami). Yang jelas keduanya otomatis berada di rel keselamatan menuju titik cahaya.
Dan yang memiliki kebun, ialah mereka yang memiliki hafalan. Maka bagi pemilik kebun, ada yang bisa menikmatinya dengan cara memakan buahnya, dan menikmatinya dengan hanya merasa senang tatkala memandangnya. Kedua-duanya adalah pemilik. Yang pertama, ialah mereka yang memiliki hafalan dan memahami hafalannya, yang kedua, adalah mereka yang memiliki hafalan tapi tidak memahami hafalannya. Kedua-duanya adalah pemilik kebun, keduanya sama-sama bahagia.
Bacaan yang mulia, ada pada kitab yang terpelihara, yakni dengan menghafalnya. Tidak boleh menyentuhnya, kecuali orang-orang yang disucikan. Orang yang disucikan ialah mereka yang menginginkan kesucian dan berusaha sungguh-sungguh kepadanya. Tidak akan berfaedah apa-apa (al Qur’an) bagi mereka yang hanya ingin bermain-main, dan menggunakannya sebagai bahan olok-olokan. Maka niat ialah penentu segala sesuatu setelahnya. Bagi mereka yang meremehkan al Qur’an, berarti mereka telah mengganti rizki yang baik dengan rizki yang buruk. Mereka mendustakan dan selalulah mereka mengingkari, padahal bacaan ini turun dari Tuhan pemilik seluruh alam.
Hal itu karena hawa nafsu telah menjadi tuhannya.

Kadzib wa Dlaallin

Tsumma innakum ayyuha dlaalliin al mukadzibun. Inilah bagian mereka bagi yang suka mendustakan lagi sesat. Medustakan nasehat, mendustakan kebenaran, mendustakan kejujuran, mendustakan kehormatan, sehingga mereka meluncur menuju jurang kehinaan. Mereka memakan buah zaqum yang berduri, mereka memenuhi perutnya dengan zaqum, dengan kedengkian, kesombongan, syahwat, dan kesenangan dunia. Dan mereka meminum air yang sangat panas, mereka senang dengan barang dan sesuatu yang haram, mereka minum seperti unta yang haus, keadaan diri mereka sudah seperti binatang, karena mereka selalu memperturutkan keserakahan dan sikap berlebih-lebihan. Itulah hidangan kehinaan untuk mereka. Yang sesat dan mendustakan, berada pada naungan yang sempit, karena mereka terbiasa hidup bermewah-mewah. Dan mereka mengerjakan dosa hingga dosa-dosa itu menimbunnya, dan mereka tidak yakin akan dibangkitkan setelah mati. Celakalah mereka!

Surga Keni’matan

Fie jannaatin na’im. Surga sendiri sudah sangat menyenangkan, apalagi surga kenikmatan, surganya surga. Diperuntukkan bagi al muqorrobun, golongan orang-orang yang paling dahulu beriman. Yang senantiasa mengambil kesempatan pertama dalam kebaikan, yang hatinya bersegera dalam memenuhi panggilan kebaikan. Beban-beban keduniaan sudah terangkat dan hilang dari sayap-sayap mereka, sehingga mereka bisa terbang bebas. Rizki mereka tidak terbatas di tanah. Karena mereka bisa terbang dan memetik buah-buahan di pepohonan yang tinggi, sayap mereka mengepak ringan mengunjungi siapapun yang membutuhkan pertolongan. Wala khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanun. Tiada ketakutan dalam diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Merekalah yang senantiasa menantikan azan dikumandangkan dari dalam masjid, merindukan panggilan sholat, sementara mereka selalu siap dengan pakaian yang terbaik, berada di dalam rumah Allah. Kepala-kepala mereka tertunduk karena setiap saat berhadap-hadapan dengan Allah. Pertobatan mereka sungguh mengagumkan, sedekah mereka tidak tanggung-tanggung. Mereka menyediakan diri mereka sendiri untuk Allah. Tidak takut akan celaan para pencela. Maka, sungguh pantas, mereka mendapatkan “qiilaan salaaman salaama ” Selamat!


Fasabbih Bismi Rabbikal ‘Adhim

Fasabbih bismi rabbikal ‘adhim. Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Agung. Menyebut ialah mengingat sekaligus melafalkan. Dalam keduanya terdapat proses penyebaran jaring-jaring. Jejaring yang pertama merengkuh hati dan pikiran sehingga hati menjadi bening, pikiran menuju kemurniannya. Hati dan pikiran terhubung dengan langit, mengikuti setiap kehendakNya, meraup segala hikmah yang banyak, mengokohkan tiang-tiang pancang petunjuk, dan menguatkan tali-tali maqbulnya doa. Sekaligus adalah meretasnya segala macam korosi dan polusi yang mungkin meliput sebagai akibat bergaul dengan banyak manusia yang belum tersucikan. Jejaring yang kedua, menggetar rahmat dan rizqi yang melimput seluruh udara, menangkap segala keberuntungan, menolak segala bala dan bencana. Memungkinan kasih lebih banyak terkembang, bagai layar kapal yang melajukan kapal kehidupan menuju surga impian. Sekaligus menetralkan bibit kebencian yang tersebar melalui mata-mata penuh amarah dan keserakahan.
Maka dengan menyebut Nama Nya yang Agung, segala hal bertekuk lutut terhadapmu, dan bahkan dirimu yang seringkali terkekang tali nafsu, terjebak pekatnya minuman godaan.
Dengan menyebut-nyebut Nya mengisyaratkan cinta, menggambarkan kerinduan, dan akhirnya mengguratkan ketenangan.
Murni, itulah asal muasal kita. Bertasbih berarti mensucikan diri, dari segala tali penghambat menuju Allah, yang sementara banyak orang terkatung-katung pada harapan dan angan kosong kepada selain Nya, bersandar pada lidi yang rapuh, kita mengosongkan hati kita, memberikan tahta sepenuhnya untuk Allah ar Rahman.
Maka sebutlah Nama Tuhanmu, sebutlah dengan penuh rasa kangen, sebut dengan keseluruhan isi surah waqi’ah yang agung, inna hadza lahuwal haqqul yakin, sesungguhnya inilah sebuah keyakinan yang benar, maka sebutlah, sebut berkali-kali.







Rabu, 23 Maret 2011

Menjadi Fasilitator Personal

“Setiap pribadi akan berkembang manakala ia mengembangkan orang lain; semakin banyak orang yang ia kembangkan, semakin berkembang dirinya.”
“Tidak ada cara tercepat dalam menguasai sebuah materi melebihi motivasi untuk mengajarkannya kepada orang lain; jika Anda mempelajari suatu materi dengan motivasi agar Anda bisa mengajarkannya kepada orang lain, maka Anda akan menguasai materi tersebut dengan percepatan yang mengagumkan.”
“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan mengajarinya ilmu yang belum diketahui; demikian seterusnya sehingga Anda menjadi lautan ilmu.”
“Mengajar adalah cara paling tepat dalam belajar, dan cara paling cepat dalam menguasai pelajaran.”
“Dengan kehendak ingin mengajarkan sesuatu kepada orang lain, maka belajar menjadi penuh makna; demikian, setiap hati akan naik ke tingkat yang lebih tinggi manakala datang kesempatan berbuat sesuatu untuk orang lain. Dengan kehendak memahamkan orang lain, kita terpacu untuk belajar lebih keras, dan kita terpacu untuk lebih dulu mengamalkan. Dengan memahamkan orang lain, kita menjadi bahagia; karena kita telah menyambung tali-tali cahaya Allah, dan menguatkannya berlipat-lipat. Camkan baik-baik! Sampai kapanpun pengetahuan Anda tidak akan sempurna, sampai kapanpun Anda tidak akan mencapai kebenaran 100%, sampai kapanpun akan tetap ada langit di atas langit. Mau menunggu sampai kapan? Apakah seseorang harus menunggu kaya, punya banyak mobil, baru kemudian berani bersedekah? Keraguan Anda menularkan ilmu dan membimbing orang lain bukanlah wujud kehati-hatian, melainkan tanda betapa malasnya Anda untuk belajar dan mengamalkan, dan juga tanda tertipunya Anda oleh iblis, dalam tiga hal:
1. Menunda-nunda kebaikan.
2. Membiarkan merajalelanya kebodohan dan kerusakan.
3. Menginginkan kesempurnaan, sehingga ketakutan jika dipersalahkan oleh makhluq.
“Cara paling cepat dalam menguasai sesuatu adalah dengan mengajarkannya kepada orang lain dengan penuh keyakinan.”
“Ilmu tidak diperoleh dengan belajar; sebaliknya, ilmu diperoleh seseorang sesuai tingkat keyakinannya; Anda yakin, maka Anda bisa.”
“Takut salah adalah cerminan dari sifat menganggap diri sempurna atau lebih parahnya, salah satu tanda bahwa seseorang belum mengenal siapa dirinya. Maka, buang jauh-jauh ketakutan, percayalah dan berserahlah pada bimbingan Allah, Anda akan melihat keajaiban demi keajaiban.”
Menjadi fasilitator personal berarti menjadi seseorang yang menyediakan dirinya bagi perkembangan orang lain. Artinya, menjadi seorang yang melayani dan membantu orang lain dalam perkembangan kedewasaannya dan pembentukan karakternya. Seorang fasilitator personal harus berpegang teguh pada keikhlasan melayani setiap pribadi; bahwa setiap pribadi memiliki keunikan masing-masing, setiap manusia adalah otentik dan memiliki sesuatu yang bisa dikembangkan. Bantu mereka menemukan dirinya, siapkan mereka menuju kesejatiannya, dan fasilitasi mereka dalam beragam peran kehidupan yang spesial. Semakin Anda memberi, semakin banyak yang akan Anda dapatkan. Bagaimana caranya? Tanya kepada suara hati, konsultasikan dengan nurani, asal ada kemauan, pasti ada jalan.

Selamat Berkarya!

MAKSIAT ANGGOTA BADAN


(Pasal)
Maksiat Hati

• riya' dalam beramal kebaikan, artinya berbuat kebaikan karena manusia; agar dapat pujian dari manusia. Perbuatan riya ini dapat menghilangkan pahala kebaikan yang dilakukannya.
• 'Ujub dalam berbuat ketaatan; artinya menganggap bahwa ibadah yang ia kerjakan adalah murni hasil dari usahanya melupakan bahwa itu adalah karunia dari Allah.
• Ragu akan adanya Allah.
• Merasa aman dari siksaan dan ancaman Allah dan atau putus asa dari rahmat Allah.
• Sombong kepada manusia; artinya menolak kebenaran dari orang lain dan memandang rendah manusia.
• Dengki (al-Hiqd), yaitu; menyimpan rasa permusuhan yang disertai dengan usaha untuk mewujudkannya serta ia sendiri tidak membenci perasaan hatinya tersebut.
• Iri hati (al-Hasad), artinya; membenci kenikmatan yang diraih oleh seorang muslim dan merasa keberatan dengannya yang disertai dengan usaha untuk melenyapkan kenikmatan tersebut darinya.
• Mengungkit-ungkit shadaqah yang ia berikan kepada orang lain, perbuatan ini meleburkan pahala shadaqahnya; seperti ia berkata kepada orang yang telah menerima shadaqahnya: "Bukankah aku telah telah memberimu ini dan itu pada hari demikian?".
• Terus-menerus dalam berbuat dosa.
• Berburuk sangka kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.
• Mendustakan (tidak mempercayai adanya) ketentuan (qadar) Allah.
• Gembira dengan maksiat yang ia kerjakan atau yang dikerjakan orang lain.
• Berkhianat sekalipun kepada orang kafir; seperti berjanji akan melindungi orang kafir tersebut tapi kemudian justru ia membunuhnya.
• Melakukan makar (al-Makr), yaitu; mencelakakan orang muslim dengan cara sembunyi-sembunyi atau tipu muslihat.
• Membenci sahabat-sahabat rasulullah, keluarganya dan orang-orang shaleh.
• Pelit (al-Bukhl) dalam hal yang diwajibkan Allah,
• Kikir (as-Syuhh) (lebih parah dari pelit)
• tamak (al-Hirsh).
• Meremehkan atau menganggap kecil sesuatu yang diagungkan atau digambarkan keburukan dan kepedihannya oleh Allah; seperti perbuatan ta'at, perbuatan maksiat (seperti meremehkan ancaman yang dijanjikan oleh bagi mereka yang berbuat maksiat), al Qur’an, ilmu agama, surga dan neraka.

(Pasal)
Maksiat Perut

• Makan harta riba,
• menarik pajak,
• ghasab (mengambil hak milik orang lain dengan paksa),
• mencuri (mengambil harta orang dengan cara sembunyi-sembunyi), dan setiap harta yang dihasilkan dari transaksi yang diharamkan oleh syari’at.
• Minum khamr (arak); pelakunya dihukum dengan dicambuk sebanyak 40 kali, jika pelakunya adalah seorang yang merdeka, dan setengahnya (20 kali cambuk) jika hamba sahaya. Dan boleh bagi khalifah menambah hukuman tersebut berdasarkan kemaslahatan yang dilihatnya.
• Makan barang-barang yang memabukkan, barang najis dan mustaqdzar (tidak najis tetapi menjijikkan seperti ingus, air ludah dan semacamnya).
• Makan harta anak yatim atau harta wakaf dengan menyalahi apa yang telah disyaratkan oleh orang yang mewakafkannya.
• Menerima pemberian orang lain yang diberikan kepadanya karena rasa malu dan tidak tulus dalam memberikannya.

(Pasal)
Maksiat Mata

• Melihat perempuan ajnabiyah (bukan mahramnya) ke muka dan dua telapak tangannya dengan syahwat, atau melihat kepada selain muka dan dua telapak tangannya sekalipun tanpa syahwat.
• Demikian juga sebaliknya; perempuan melihat laki-laki yang bukan mahramnya kepada apa yang ada di antara pusar dan lututnya.
• Tidak haram bagi perempuan tersebut melihat kepada yang selain antara pusar dan lutut dengan tanpa syahwat.
• Haram juga melihat aurat (sekalipun sesama jenis).
• Haram bagi laki-laki dan perempuan membuka dua aurat besarnya (Qubul dan Dubur) di tempat yang sepi dengan tanpa ada hajat.
• Boleh (Halal) bagi seseorang dengan mahramnya atau sesama jenis melihat kepada selain antara pusar dan lutut dengan tanpa syahwat.
• Haram memandang hina atau rendah terhadap seorang muslim.
• Juga melihat isi rumah orang lain tanpa seizin tuan rumah, atau melihat sesuatu yang disembunyikannya.

(Pasal)
Maksiat Lidah

• Ghibah, yaitu; apabila engkau menyebut–nyebut sesama saudara muslim dengan sesuatu yang ia membencinya (untuk dibicarakan terhadap orang) di antara apa yang ada pada diri orang tersebut di belakangnya artinya tidak di hadapannya.
• Namimah, yaitu; menyebarkan isu atau propaganda permusuhan (provokasi).
• Tahrisy, yaitu; provokasi dengan tanpa ucapan, sekalipun antara binatang.
• Berbohong (perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan).
• Sumpah palsu.
• Mengucapkan kalimat-kalimat yang mengandung qadzaf; kalimat qadzaf ini sangat banyak sekali, intinya tuduhan kepada seseorang atau salah seorang kerabatnya dengan perbuatan zina, baik dengan kata-kata yang sharih (jelas) secara mutlak (dengan atau tanpa niat) atau dengan kata-kata kinayah (sindiran) yang disertai dengan niat tuduhan. Pelakunya (jika orang merdeka) dihukum dengan 80 kali cambukan dan setengahnya bila ia seorang hamba sahaya.
• Mencaci sahabat Rasulullah.
• Bersaksi palsu.
• Menunda-nunda dalam membayar hutang padahal dia mampu untuk membayarnya.
• Mencaci, melaknat dan menghina seorang muslim dan setiap perkataan yang menyakitinya.
• Berdusta kepada Allah dan rasul-Nya,
• melakukan dakwa (mengakui hak milik orang lain sebagai miliknya) palsu,
• thalak bid’iy (yaitu mentalak istri dalam keadaan haid atau dalam keadaan suci yang telah ia setubuhi pada masa suci tersebut).
• Zhihar, yaitu berkata kepada istri: “Punggungmu seperti punggung ibuku”, artinya aku tidak lagi menggaulimu.
• Pelaku zhihar dikenakan kifarat jika tidak mentalaknya seketika itu. Kifaratnya adalah; memerdekakan budak mukmin yang normal (sehat dan tidak cacat), jika tidak mampu maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu berpuasa maka harus memberi makan 60 orang miskin dengan 60 mud (satu mud adalah satu cakupan dua tangan ukuran tangan orang yang sedang, tidak terlalu kecil atau terlalu besar).
• Salah dalam membaca al-Qur’an dengan bacaan yang bisa merusak makna, atau bacaan yang merusak i’rab (harakat akhir kata) sekalipun tidak sampai merusak makna.
• Meminta-minta (mengemis) bagi orang yang berkecukupan dengan harta atau pekerjaannya.
• Bernadzar dengan tujuan menggagalkan hak waris ahli warisnya.
• Tidak berwasiat tentang hutangnya atau suatu benda titipan yang ada padanya; yang keduanya tidak diketahui oleh orang lain.
• Menisbatkan diri kepada selain ayahnya atau kepada selain tuannya yang telah memerdekakannya, seperti berkata; "saya telah dimerdekakan oleh si fulan", dengan menyebutkan nama orang lain yang tidak memerdekakannya.
• Melamar perempuan yang telah dilamar muslim lainnya.
• Memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu.
• Belajar dan atau mengajarkan ilmu yang membahayakan tanpa ada sebab syar’i.
• Memakai hukum selain hukum Allah.
• Meratapi musibah dengan menyebut-nyebut kebaikan dan atau menjerit-jerit karena kematian seseorang.
• Setiap perkataan yang mendorong seseorang untuk berbuat kemaksiatan dan atau perkataan yang melemahkan seseorang dari melaksanakan pekerjaan wajib.
• Setiap perkataan yang mengandung hinaan terhadap agama, salah seorang nabi, ulama, al-Qur’an atau ajaran-ajaran Allah lainnya.
• Meniup seruling.
• Berdiam diri dari amar ma’ruf dan nahi munkar tanpa ada udzur syar’i.
• Menyembunyikan ilmu yang wajib dipelajari (tidak mengajarkannya) kepada orang yang menuntutnya darinya.
• Mentertawakan orang karena keluarnya angin darinya, atau mentertawakan seorang muslim dengan tujuan menghinanya.
• Menyembunyikan persaksian dan tidak menjawab salam yang wajib untuk dijawab.
• Haram bagi seorang yang sedang berihram haji atau umrah mencium suami atau istri yang membangkitkan syahwat, juga bagi yang sedang menjalankan puasa fardlu apabila dikhawatirkan dapat menyebabkan keluarnya mani dan ada pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya makruh, juga haram mencium orang yang haram untuk dicium.

(Pasal)
Maksiat Telinga

• Mendengar perkataan orang yang dirahasiakan darinya.
• Mendengar bunyi seruling, biola (alat musik yang menyerupai gitar) dan suara-suara lain yang diharamkan.
• Juga haram hukumnya mendengar ghibah, namimah dan semacamnya.
• Berbeda halnya jika mendengar suara-suara tersebut tanpa disengaja dan ia bencinya, namun demikian dia harus mengingkarinya jika mampu.

(Pasal)
Maksiat Kedua Tangan

• Mengurangi takaran, timbangan atau ukuran (dengan hasta misalnya).
• Mencuri, dan pencuri barang yang senilai seperempat dinar dari tempat biasanya barang tersebut disimpan, akan dikenakan hukuman had dengan dipotong tangan kanannya kemudian jika dia mengulanginya lagi maka dipotong kaki kirinya, jika dia mengulanginya kembali maka dipotong tangan kirinya, kemudian kaki kirinya.
• Merampas hak orang lain secara terang-terangan dengan mengandalkan lari (an-Nahb),
• Menguasai hak orang lain secara terang-terangan dengan mengandalkan kekuatan (Ghashb)
• dan mengambil pajak
• dan mengambil harta ghanimah sebelum dibagikan secara syar’i.
• Dan membunuh, kifaratnya secara mutlak yaitu memerdekakan hamba sahaya yang sehat (tidak cacat), jika dia tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut–turut, dan kalau membunuhnya dengan sengaja maka ia dikenakan hukuman qishash kecuali dimaafkan oleh ahli waris dengan syarat membayar diyat atau dengan cuma-cuma (gratis).
• Sedangkan membunuh karena tersalah (Qatl al Khatha’) dan yang menyerupainya (Syibh al Khatha’) maka hukumnya wajib membayar diyat yaitu seratus unta jika yang terbunuh adalah laki-laki merdeka yang muslim dan separuhnya bagi perempuan merdeka yang muslimah, dan hukum diyat itu disesuaikan dengan kasus pembunuhannya.
• Dan di antara maksiat tangan ialah memukul tanpa hak.
• Dan mengambil suap dan menyuap.
• Dan membakar hewan kecuali jika hewan itu menyakiti dan tidak ada jalan lain untuk menolak bahayanya,
• memotong-motong tubuh hewan.
• Bermain dadu dan semua yang mengandung perjudian hingga permainan anak dengan kaplek,
• dan memainkan alat musik yang diharamkan seperti biola, robab, seruling dan gitar.
• Diharamkan bagi laki-laki menyentuh perempuan yang ajnabi (bukan mahram) dengan sengaja tanpa kain penghalang atau dengan menggunakan kain penghalang tapi dengan syahwat walaupun dengan sejenisnya atau mahramnya.
• Menggambar sesuatu yang bernyawa.
• Tidak membayar zakat atau hanya mengeluarkan sebagian saja padahal sudah tiba waktunya dan ia mampu untuk membayarnya, mengeluarkan sesuatu yang tidak menjadikan sah zakatnya, membagikan zakatnya kepada mereka yang tidak berhak menerimanya, tidak membayar upah buruh.
• Tidak menolong orang yang sedang dalam Dlarurah (kesulitan yang sangat berat) dengan sesuatu yang menyelamatkannya tanpa ada udzur syar’i,
• tidak menolong orang yang sedang tenggelam padahal tidak ada udzur syar’i.
• Menulis sesuatu yang haram untuk diucapkan.
• Khianat; yaitu kebalikan nasihat, hal ini bisa terwujud dalam perkataan, perbuatan dan keadaan.


(Pasal)
Maksiat farji

• Zina (yaitu memasukkan kepala penis ke dalam qubul).
• Liwath (yaitu memasukkan kepala penis melalui dubur).
• Hukuman bagi orang yang berbuat zina atau liwath adalah Rajam; dilempar dengan batu sampai meninggal, bagi laki – laki dan perempuan yang sudah menikah atau dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun bagi yang belum menikah dan bagi seorang budak setengah dari ketentuan tersebut.
• Bersetubuh dengan hewan meskipun hewan tersebut miliknya,
• onani dengan selain tangan istrinya dan tangan budaknya yang halal baginya,
• bersetubuh di saat haidl, nifas, atau telah suci dari keduanya tapi belum mandi hadats besar atau setelah mandi wajib tapi tanpa disertai niat yang sah, atau disebabkan tertinggalnya salah satu syarat dari syarat-syarat mandi wajib.
• Menampakkan sesuatu di hadapan orang yang haram melihatnya atau membukanya dalam keadaan sendirian tanpa tujuan apapun.
• Menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air kecil atau besar tanpa ada penghalang (penutup di depannya yang tingginya 2/3 hasta atau lebih). Atau ada sesuatu yang menghalanginya akan tetapi jauh darinya lebih dari tiga hasta atau penghalang tersebut tingginya kurang dari 2/3 hasta kecuali pada tempat yang memang dikhususkan untuk buang air (boleh menghadap atau membelakangi kiblat bila berada di tempat yang khusus disediakan untuk buang hajat seperti WC dan kamar kecil).
• Buang air besar di atas kuburan,
• Buang air kecil di masjid di tempat yang dimuliakan secara syariat meskipun kencingnya ditaruh di tempat semacam botol,
• Tidak khitan padahal ia telah baligh, tapi menurut mazhab imam Malik hal ini dibolehkan.

(Pasal)
Maksiat kaki

• Di antara maksiat kaki : Pergi untuk melakukan perbuatan dosa seperti mencelakakan sesama muslim dengan menghasut seorang penguasa atau yang lainnya, atau untuk membunuhnya; yaitu berjalan untuk membunuhnya atau melukainya tanpa hak.
• Kaburnya seorang hamba dari majikannya, istri dari suaminya, seseorang pelaku jinayah dari hukuman qihsash,
• lari dari hutang,
• lari dari tanggungjawab memberi nafkah,
• lari dari kewajiban berbakti kepada kedua orang tua atau lari dari tanggungjawab memelihara anak.
• Berjalan dengan sombong.
• Melangkahi pundak orang lain kecuali untuk menempati tempat yang kosong.
• Berjalan di depan orang yang sedang shalat apabila syarat-syarat pembatasnya (Sutrah) terpenuhi.
• Mengarahkan kaki (dengan selonjor misalnya) ke mushaf padahal mushaf dalam posisi/tempat yang tidak tinggi.
• Dan setiap perjalanan untuk melakukan perkara yang haram dan meninggalkan kewajiban.

(Pasal)
Maksiat Badan

• Menyakiti (‘Uquq) kedua orang tua.
• Kabur dari peperangan; yaitu lari dari barisan tentara Islam yang berperang di jalan Allah setelah sampai di medan peperangan.
• Memutuskan tali silaturrahmi.
• Menyakiti tetangga meskipun seorang kafir; yang telah mendapat jaminan
• keamanan.
• Menyemir rambut dengan warna hitam (sebagian ulama membolehkan apabila tidak bertujuan untuk menipu dan mengelabui).
• Laki–laki menyerupai perempuan dan sebaliknya yakni dengan sesuatu yang khusus bagi salah satu jenis dalam hal berpakaian, sikap dan lain–lain.
• Isbal (melebihkan pakaian hingga ke bawah mata kaki) dengan niat pamer atau sombong.
• Memberi warna pada tangan dan kaki dengan daun pacar bagi laki-laki tanpa ada kebutuhan yang diperbolehkan syara’.
• Membatalkan ibadah wajib (seperti shalat, puasa) tanpa udzur syar’i.
• Membatalkan ibadah haji dan umrah yang status keduanya adalah sunnah bagi pelakunya.
• Meniru perbuatan orang mukmin dengan tujuan menghinanya.
• Mencari-cari kejelekan orang.
• Memakai atau yang membuat tato.
• Tidak bertegur sapa terhadap seorang muslim selama lebih dari tiga hari kecuali ada alasan yang diperbolehkan syara’.
• Duduk bersama dengan ahli bid’ah atau orang fasiq sehingga si fasiq tenggelam dalam kefasikannya.
• Memakai emas, perak dan kain sutra atau sesuatu yang kadar ketiganya lebih banyak bagi laki-laki yang telah baligh kecuali cincin perak.
• Khalwah dengan ajnabiyah yaitu berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya di tempat yang sunyi tanpa ada orang ketiga; laki-laki atau perempuan yang disegani.
• Perginya seorang wanita tanpa mahram.
• Mempekerjakan orang lain yang merdeka secara paksa.
• Memusuhi wali.
• Menolong/membantu dalam berbuat maksiat.
• Menyebarkan sesuatu yang palsu.
• Memakai peralatan rumah (bejana-bejana) yang terbuat dari emas dan perak atau menyimpannya, dan untuk perhiasan diperbolehkan bagi perempuan.
• Meninggalkan sesuatu yang fardlu, atau melaksanakannya tapi dengan meninggalkan rukun atau syaratnya atau melakukan hal yang membatalkannya.
• Meninggalkan shalat jum’at yang hukumnya wajib baginya meskipun dia melakukan shalat Zhuhur.
• Meninggalkan shalat berjama’ah bagi seluruh penduduk desa umpamanya.
• Mengakhirkan shalat fardlu sampai keluar dari waktunya tanpa udzur.
• Melempar binatang buruan dengan sesuatu yang berat dan tumpul (dengan sesuatu yang dapat membunuhnya karena sebab beratnya seperti batu).
• Menjadikan hewan sebagai sasaran latihan.
• Perempuan yang sedang dalam masa iddah keluar rumah tanpa udzur.
• Tidak menjalankan ihdad atas meninggalnya suami.
• Mengotori masjid dengan benda najis atau meskipun dengan benda yang suci.
• Menunda-nunda haji bagi yang telah mampu sampai meninggal dunia.
• Berhutang bagi orang yang tidak ada harapan secara lahiriyah dapat membayar hutangnya dan orang yang menghutanginya tidak tahu akan hal tersebut.
• Tidak memberikan tempo waktu yang lebih lama bagi orang yang tidak sanggup membayar hutang.
• Menggunakan harta untuk perbuatan maksiat.
• Merendahkan al Qur’an dan ilmu syara’ dan membiarkan anak kecil yang sudah mumayyiz untuk melakukan itu.
• Memindahkan batasan tanah (memindahkan batasan antara tanah miliknya dengan tanah milik orang lain).
• Memanfaatkan tanah jalan dengan sesuatu yang tidak diperbolehkan.
• Menggunakan barang pinjaman tidak pada fungsinya, memakainya melebihi batas waktu yang telah ditentukan atau meminjamkannya kepada orang lain.
• Melarang orang mengunakan fasilitas umum seperti padang rumput untuk menggembala, melarang orang lain mencari kayu bakar di tanah yang tidak bertuan, melarang orang lain mencari garam atau emas dan perak di lahan tambang milik umum dan lainnya.
• Melarang orang lain mengambil air dari sumbernya.
• Mengunakan barang temuan sebelum diumumkan ke publik/masyarakat sesuai dengan syarat-syaratnya.
• Duduk sambil melihat kemunkaran kecuali ada udzur.
• Bertamu di suatu perayaan tanpa diundang atau yang mengadakan pesta mengizinkannya masuk karena merasa malu bila mengusirnya.
• Membedakan antara istri–istri (oleh suami yang berpoligami) dalam hal nafkah dan bermalam, sedangkan kecondongan cinta dan sayang yang lebih pada salah satunya bukanlah maksiat.
• Keluarnya seorang perempuan dari rumah untuk mencari perhatian atau menggoda laki–laki.
• Melakukan sihir.
• Tidak taat pada Imam/Khalifah; seperti mereka yang membangkang kepada sayyidina Ali dan bahkan memeranginya, al Bayhaqi mengatakan bahwa seluruh orang yang memerangi Ali adalah bughat (pembangkang), begitu pula fatwa Imam Syafi’i sebelumnya, meskipun di antara mereka ada yang tergolong sahabat pilihan karena seorang wali sekalipun tidak mustahil berbuat dosa sekalipun dosa besar.
• Mengurus anak yatim, masjid atau menjadi hakim padahal ia mengetahui bahwa dirinya tidak mampu menjalankan amanat tersebut.
• Menyembunyikan dan melindungi orang yang zhalim dari orang yang ingin mengambil hak darinya.
• Menakut-nakuti orang muslim.
• Membegal dan pembegal ini dihukum sesuai dengan perbuatan kriminalnya bisa didera, atau dipotong tangan dan kakinya secara berlawanan apabila ia membegal tanpa membunuh korbannya atau dibunuh dan disalib apabila ia membunuh korbannya.
• Tidak melaksanakan apa yang telah dinadzarkan.
• Wishal dalam berpuasa; yaitu berpuasa dua hari atau lebih secara berturut–turut tanpa makan apapun.
• Menempati tempat duduk orang lain atau mendesaknya dan sampai menyakitinya atau mengambil giliran orang lain.


Sumber: Mukhtasar Imam Harari

Renungan Cinta

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.
Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”
Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.
Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin.
Inilah dasyatnya cinta !
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka
Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.
Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan...

Rancangan Kartu Anggota FUKI


Manajeman Diri: Apa yang harus seseorang lakukan dalam hidupnya?
Oleh Muhammad Zainur Rakhman

”Yang pertama, seseorang mesti hidup, artinya punya kemauan dan daya hidup. Yang kedua, seseorang mesti menikmati hidup, karena hidup adalah anugrah yang pantas disyukuri. Yang ketiga, seseorang mesti memaknai hidup, yakni menemukan arti dalam setiap tindakan.”

Kemauan hidup, membuat seseorang lekas bangkit dari kegagalan, dan menghidari jurang keputusasaan. Menikmati hidup, akan menghilangkan setiap beban, sehingga segala sesuatu terasa menyenangkan. Dengan menikmati hidup seseorang akan mendapatkan kebahagiaan. Memaknai berarti melihat sesuatu yang spiritual dalam setiap tindakan dan peristiwa material. Dengan memaknai hidup, seseorang akan terhindar dari kebosanan dan tidak terjebak pada tingkah laku yang rendah dan dangkal. Dengan memaknai hidup, seseorang mendapatkan ketenangan batin. Ketiga-tiganya penting, dan dengan tiga prinsip inilah, seseorang seharusnya bisa mengelola kehidupannya dengan baik. Kehidupan yang menyenangkan sekaligus yang bermakna.

Untuk hidup, seseorang perlu makan, minum, tidur, menjaga kesehatan dan kebersihan, namun yang paling penting adalah sebuah pikiran yang sadar, bahwa aku ada, dan berkuasa terhadap diriku sendiri, meski tubuh bisa rusak dan terluka, namun ide dan pikiran bahwa aku hidup, tidak akan bisa hancur, ide dan gagasan akan tetap tegar dalam kondisi apapun, tidak ada yang bisa memenjarakan pikiran kecuali pikiran yang terpenjara.

Untuk menikmati hidup, seseorang butuh bersenang-senang, bercanda ria, memanjakan diri, rekreasi, melihat dan menikmati keindahan dan hal-hal yang enak.

Untuk memaknai hidup, seseorang butuh kontemplasi, merenung dengan dalam, menjalin komunikasi batin yang intens dengan Tuhan, melaksanakan nilai-nilai moral yang mulia, taat terhadap nurani, setia kepada suara hati, memenuhi panggilan jiwa, dan banyak memberi kepada sesama.

Padukan kebutuhan-kebutuhan di atas dengan proporsi yang tepat dan seimbang. Dan buatlah perencanaan berkaitan dengan impian dan cita, yang disusun dalam aktifitas harian, pekanan, bulanan, tahunan. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Apa yang paling Anda inginkan atau cita-citakan pada masa kecil? Cita-cita masa kecil biasanya merupakan cita-cita yang paling murni, dan kadangkala merupakan pertanda dari Tuhan. Namun, sebelumnya bebaskan paradigma Anda tentang cita-cita sebagai profesi yang menghasilkan uang, bebaskan itu dulu. Ingatlah, kata-kata lugu dan murni saat kecil dulu Anda mengatakan dengan tegas, “aku ingin jadi ...”
2. Lihatlah diri dan perasaan Anda, kegiatan atau sesuatu apa yang paling membuat Anda sangat gembira, perasaan seperti membuncah dan seolah Anda memiliki energi yang besar untuk melakukannya, Anda seolah tidak peduli terhadap rintangan sehebat apapun yang menghadang, dan Anda tidak khawatir akan iri terhadap orang lain, karena Anda tahu bahwa kegiatan atau sesuatu itu selamanya hanya untuk Anda. Sekali lagi, bebaskan diri Anda dari paradigma bahwa sesuatu itu haruslah profesi yang sudah umum yang menghasilkan uang. Bebaskan nalar Anda dari nalar keumuman, dan biarkan imajenasi Anda melayang, meraup segala yang ada. Jawablah dengan jujur, “Aku paling suka saat melakukan ... , dan aku nggak peduli apapun, pokoknya aku suka banget.”
3. Sekarang, fokuskan jawaban dari titik-titik nomor satu dengan nomor dua, jika memiliki kesamaan dalam kandungan makna, maka itu sebuah titik awal pencarian. Tulis dengan huruf besar, jawaban titik-titik tersebut. Dan Anda tidak perlu bingung, ragu, gundah, atau menghindar, ketika ternyata jawaban itu bertentangan dengan keputusan Anda sekarang. Bisa jadi keputusan Anda itu, karena Anda masih terpengaruh dengan sesuatu diluar diri Anda.
4. Sebagai pertimbangan, sekarang dari jawaban itu, buatlah garis-garis yang menyebar disekeliling jawaban tersebut, dan tulislah kira-kira dari jawaban itu, apa yang bisa aku berikan untuk orang lain. Dan Anda harus memastikan, bahwa dengan memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan jawaban itu, Anda akan semakin bahagia dan bersemangat untuk hidup. Jika Anda tidak merasakan kebahagiaan, maka ulangilah proses dari nomor satu, dan cobalah untuk jujur dan bebas.
5. Setelah Anda menemukan jawaban, dan dengan jawaban itu, Anda benar-benar bisa bahagia (ingat! Bahagia lebih dari sekedar uang), kemudian lihatlah kehidupan Anda, dari usia yang bisa Anda ingat sampai sekarang, lihat apakah banyak kesempatan dan pertanda yang membuat diri Anda mudah (seolah-olah diarahkan kesana) untuk melaksanakan jawaban tersebut.
6. Jika iya, maka diamlah sejenak. Pejamkan mata, katakan dalam hati jawaban itu. Katakan berulang-ulang. Apakah Anda merasakan keriangan yang luar biasa? Jika iya, maka lanjutkan baca nomor tujuh di bawah ini.
7. “SAKSIKANLAH BAHWA ITULAH PANGGILAN JIWA ANDA, DAN UNTUK HAL ITULAH ANDA ADA.”
8. Sebagai penguatan, silahkan cocokkan dengan makna nama Anda. Cocokkan dengan tokoh-tokoh dan sosok yang sangat Anda kagumi. Cocokkan dengan sifat dan karakteristik murni Anda yang apa adanya. Jika cocok,
9. Tunggu apa lagi? laksanakan tugas Anda! Dan Anda akan membuktikan sendiri bahwa Anda bisa hidup, menikmati hidup, dan memaknai hidup. Ketiga-tiganya bisa Anda dapatkan.

Mulailah membuat rencana, bagaimana saya bisa melaksanakan tugas kehidupan saya. Bagaimana saya bisa mewujudkan panggilan jiwa saya. Nah, barulah Anda melakuan SWOT.
S, Strength (KEKUATAN); apa saja kekuatan saya, yang bisa saya gunakan untuk mencapai panggilan jiwa saya.
W, Weakness (KELEMAHAN); apa saja kelemahan saya, yang barangkali melemahkan usaha saya dalam mencapai panggilan jiwa saya.
O, Opportunity (KESEMPATAN/ PELUANG); kesempatan apa yang bisa saya manfaatkan untuk membantu tercapainya panggilan jiwa saya.
T, Threatmen (ANCAMAN); apa saja ancaman yang menghadang dalam usaha mecapai panggilan jiwa saya.

Rumusnya, Gunakan kekuatan dan peluang semaksimal mungkin, dan segera atasi setiap kelemahan dan ancaman dengan penuh keteguhan.

Setelah itu, buatlah rencana harian, pekanan, bulanan, dan tahunan. Susunlah target-target apa yang aku capai dalam tahun ini, tahun depan, tahun depannya lagi, sampai panggilan jiwa Anda benar-benar terwujud. Susunlah waktu Anda berdasarkan kebutuhan untuk:

1. Spiritualitas (sholat, zikir, tilawah, dll)
2. Pemulihan (makan, minum, tidur, olahraga, dll)
3. Relaksasi (hobi, jalan-jalan, nonton, bersenang-senang, pijat, spa, dll)
4. Perawatan (mandi, cuci baju, merawat barang-barang pribadi, kendaraan, dll)
5. Pembelajaran (membaca, kontemplasi, berdiskusi, ngaji, sekolah, kursus, dll)
6. Produktifitas (apa saja yang berhubungan dengan panggilan jiwa Anda, contoh: menulis, mengajar, mencipta sesuatu, berkarya, dll)
7. Interaksi (ngobrol, silaturrahmi, sms, telpon, chatting, fb, dll)

Jalankan semua yang telah Anda rencanakan dengan penuh komitmen, cinta, dan disiplin. Anda tidak harus pintar disetiap bidang, barangkali panggilan jiwa Anda memang bukan untuk menjadi ranking satu, bukan untuk mendapat matematika sembilan, bukan untuk melakukan dan mencapai sesuatu gara-gara terpancing ingin bersaing dengan yang lain, atau sakit hati dikatakan bodoh. Setiap manusia adalah unik, otentik, dan memiliki peran yang khas. Jangan samakan dengan mesin atau robot, yang bisa dicetak sama dan seragam. Kalau demikian, Anda sama saja dengan skrup, dan saya akan dengan senang hati mengulir Anda dengan obeng. Tidak usah kecil hati dengan keberhasilan yang di capai oleh orang lain. Lihatlah, keberhasilan apapun, kalau bukan berdasarkan panggilan jiwa, orangnya tidak akan benar-benar bahagia. Kebahagiaannya Cuma kebahagiaan semu karena melihat dialah yang terbaik dan mampu mengalahkan orang lain. Keberhasilan yang berdasarkan panggilan jiwa, pasti orang lain turut bahagia, semua merasakan manfaatnya. Dan semua merasakan sama-sama menang. Camkan baik-baik.

Beberapa puluh tahun yang akan datang, kabarkan kepada saya tentang diri Anda yang telah berhasil mewujudkan panggilan jiwa.

GOOD LUCK! Allah selalu menyertaimu.

Sembilan Kaidah Keadaan
Bakda Mulud, 1432 H


“Yang dahulunya tiada, kemudian menjadi ada, selanjutnya tidak ada, adalah benar-benar tidak ada.”

“Yang dahulunya ada, kemudian tetap ada, dan selalu ada, adalah benar-benar ada.”

“Yang kemarin sudah pergi, yang esok masih misteri, yang benar-benar ada adalah saat ini.”

“Segala sesuatu ada saatnya, tidak ada yang harus dipercepat ataupun diperlambat.”

“Semakin diusahakan, semakin sulit dijangkau; semakin dibiarkan, semakin ia datang mendekat.”

“Tidak ada masalah; yang ada hanya keinginan kita untuk mengeluh.”

“Segala sesuatu berada dalam jangkauan tangan; akan tetapi kaki kita demikian senang bepergian.”

“Yang terpenting adalah kesadaran; bahwa kita tidak benar-benar ada; sehingga saat kita terjatuh, kita secepatnya paham, bahwa kita tidak benar-benar sakit.”

“Yang tidak ada bergantung sepenuhnya kepada yang ada; suka atau tidak suka.”


Muhammad Zainur Rakhman