Sabtu, 26 November 2011

Kunci Hidup Sukses



"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu..." (Q. S Ali Imran (3) : 160)

Bagaimana kita memahami pengertian hidup sukses? Dari mana harus memulainya ketika kita ingin segera diperjuangkan?

Tampaknya tidak terlalu salah bila ada orang yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi, bahkan lulusan luar negeri, lalu menganggap dirinya orang sukses. Mungkin juga seseorang yang gagal dalam menempuh jalur pendidikan formal belasan tahun lalu, tetapi saat ini berani menepuk dada karena yakin bahwa dirinya telah mencapai sukses. Mengapa demikian? Karena, ia telah memilih dunia wirausaha, lalu berusaha keras tanpa mengenal lelah, sehingga mewujudlah segala buah jerih payahnya itu dalam belasan perusahaan besar yang menguntungkan.

Seorang ayah dihari tuanya tersenyum puas karena telah berhasil mengayuh bahtera rumah tangga yang tentram dan bahagia, sementara anak anaknya telah ia antar ke gerbang cakrawala keberhasilan hidup yang mandiri. Seorang kiai atau mubaligh juga berusaha mensyukuri kesuksesan hidupnya ketika jutaan umat telah menjadi jamaahnya yang setia dan telah menjadikannya sebagai panutan, sementara pesantrennya selalu dipenuh sesaki ribuan santri.

Pendek kata, adalah hak setiap orang untuk menentukan sendiri dari sudut pandang mana ia melihat kesuksesan hidup. Akan tetapi, dari sudut pandang manakah seyogyanya seorang muslim dapat menilik dirinya sebagai orang yang telah meraih hidup sukses dalam urusan dunianya?

Membangun Fondasi
Kalau kita hendak membangun rumah, maka yang perlu terlebih dahulu dibuat dan diperkokoh adalah fondasinya. Karena, fondasi yang tidak kuat sudah dapat dipastikan akan membuat bangunan cepat ambruk kendati dinding dan atapnya dibuat sekuat dan sebagus apapun.

Sering terjadi menimpa sebuah perusahaan, misalnya yang asalnya memiliki kinerja yang baik, sehingga maju pesat, tetapi ternyata ditengah jalan rontok. Padahal, perusahaan tersebut tinggal satu dua langkah lagi menjelang sukses. Mengapa bisa demikian? ternyata faktor penyebabnya adalah karena didalamnya merajalela ketidakjujuran, penipuan, intrik dan aneka kezhaliman lainnya.

Tak jarang pula terjadi sebuah keluarga tampak berhasil membina rumah tangga dan berkecukupan dalam hal materi. Sang suami sukses meniti karir dikantornya, sang isteri pandai bergaul ditengah masyarakat, sementara anak-anaknya pun berhasil menempuh jenjang studi hingga ke perguruan tinggi, bahkan yang sudah bekerjapun beroleh posisi yang bagus. Namun apa yang terjadi kemudian?

Suatu ketika hancurlah keutuhan rumah tangganya itu karena beberapa faktor yang mungkin mental mereka tidak sempat dipersiapkan sejak sebelumnya untuk menghadapinya. Suami menjadi lupa diri karena harta, gelar, pangkat dan kedudukannya, sehingga tergelincir mengabaikan kesetiaannya kepada keluarga. Isteripun menjadi lupa akan posisinya sendiri, terjebak dalam prasangka, mudah iri terhadap sesamanya dan bahkan menjadi pendorong suami dalam berbagai perilaku licik dan curang. Anak-anakpun tidak lagi menemukan ketenangan karena sehari-hari menonton keteladanan yang buruk dan
menyantap harta yang tidak berkah.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merintis sesuatu secara baik? Alangkah indah dan mengesankan kalau kita meyakini satu hal, bahwa tiada kesuksesan yang sesungguhnya, kecuali kalau Allah Azza wa Jalla menolong segala urusan kita. Dengan kata lain apabila kita merindukan dapat meraih tangga kesuksesan, maka segala aspek yang berkaitan dengan dimensi sukses itu sendiri harus disandarkan pada satu prinsip, yakni sukses dengan dan karena pertolongan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan fondasi yang tidak bisa tidak harus diperkokoh sebelum kita membangun dan menegakkan mernara gading kesuksesan.

Sunnatullah dan Inayatullah
Terjadinya sesoang bisa mencapai sukses atau terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkannya, ternyata amat bergantung pada dua hal yakni sunnatullah dan inayatullah. Sunatullah artinya sunnah-sunnah Allah yang mewujud berupa hukum alam yang terjadinya menghendaki proses sebab akibat, sehingga membuka peluang bagi perekayasaan oleh perbuatan manusia. Seorang mahasiswa ingin menyelesaikan studinya tepat waktu dan dengan predikat memuaskan. Keinginan itu bisa tercapai apabila ia bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam belajarnya, mempersiapkan fisik dan pikirannya dengan sebaik-
baiknya, lalu meningkatkan kuantitas dan kualitas belajarnya sedemikian rupa, sehingga melebihi kadar dan cara belajar yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam konteks sunnatullah, sangat mungkin ia bisa meraih apa yang dicita-citakannya itu.

Akan tetapi, ada bis yang terjatuh ke jurang dan menewaskan seluruh penumpangnya, tetapi seorang bayi selamat tanpa sedikitpun terluka. Seorang anak kecil yang terjatuh dari gedung lantai ketujuh ternyata tidak apa-apa, padahal secara logika terjatuh dari lantai dua saja ia bisa tewas. Sebaliknya, mahasiswa yang telah bersungguh-sungguh berikhtiar tadi, bisa saja gagal total hanya karena Allah menakdirkan ia sakit parah menjelang masa ujian akhir studinya, misalnya. Segala yang mustahil menurut akal manusia sama sekali tidak ada yang mustahil bila inayatullah atau pertolongan Allah telah turun.

Demikian pula kalau kita berbisnis hanya mengandalkan ikhtiar akal dan kemampuan saja, maka sangat mungkin akan beroleh sukses karena toh telah menetapi prasyarat sunnatullah. Akan tetapi, bukankah rencana manusia tidak mesti selalu sama dengan rencana Allah. Dan adakah manusia yang mengetahui persis apa yang menjadi rencana Nya atas manusia? Boleh saja kita berjuang habis-habisan karena dengan begitu orang kafirpun toh beroleh kesuksesan. Akan tetapi, kalau ternyata Dia menghendaki lain lantas kita mau apa? mau kecewa? kecewa sama sekali tidak mengubah apapun. Lagipula, kecewa yang timbul dihati tiada lain karena kita amat menginginkan rencana Allah itu selalu sama dengan rencana kita. Padahal Dialah penentu segala kejadian karena hanya Dia yang Maha Mengetahui hikmah dibalik segala kejadian.

Rekayasa Diri
Apa kuncinya? Kuncinya adalah kalau kita menginginkan hidup sukses di dunia, maka janganlah hanya sibuk merekayasa diri dan keadaan dalam rangka ikhtiar dhahir semata, tetapi juga rekayasalah diri kita supaya menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah. Ikhtiar dhahir akan menghadapkan kita pada dua pilihan, yakni tercapainya apa yang kita dambakan - karena faktor sunnatullah tadi - namun juga tidak mustahil akan berujung pada kegagalan kalau Allah menghendaki lain.

Lain halnya kalau ikhtiar dhahir itu diseiringkan dengan ikhtiar bathin. Mengawalinya dengan dasar niat yang benar dan ikhlas semata mata demi ibadah kepada Allah. Berikhtiar dengan cara yang benar, kesungguhan yang tinggi, ilmu yang tepat sesuai yang diperlukan, jujur, lurus, tidak suka menganiaya orang lain dan tidak mudah berputus asa.

Senantiasa menggantungkan harap hanya kepada Nya semata, seraya menepis sama sekali dari berharap kepada makhluk. Memohon dengan segenap hati kepada Nya agar bisa sekiranya apa-apa yang tengah diikhtiarkan itu bisa membawa maslahat bagi dirinya mapun bagi orang lain, kiranya Dia berkenan menolong memudahkan segala urusan kita. Dan tidak lupa menyerahkan sepenuhnya segala hasil akhir kepada Dia Dzat Maha Penentu segala kejadian.

Bila Allah sudah menolong, maka siapa yang bisa menghalangi pertolongan-Nya? Walaupun bergabung jin dan manusia untuk menghalangi pertolongan yang diturunkan Allah atas seorang hamba Nya sekali-kali tidak akan pernah terhalang karena Dia memang berkewajiban menolong hamba-hambaNya yang beriman.

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberikan pertolongan) maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal" (QS Ali Imran (3) : 160).

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Pedoman Pergaulan Muslim


Rasulullah SAW bersabda:


Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan (bukan mahram) karena yang ketiganya adalah syetan. (HR. Abu Dawud)

Barangsiapa berjabatan tangan dengan perempuan yang bukan mahramnya maka dia dimurkai Allah Azza wajalla. (HR.Ibnu Baabawih)

Janganlah laki-laki berduaan dengan perempuan (lain) kecuali perempuan itu didampingi mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan (musafir) kecuali didampingi mahramnya. (HR. Muslim)

Seorang wanita yang memakai minyak wangi lalu lewat di tengah-tengah kaum (laki-laki) dengan maksud agar mereka menghirup bau harumnya maka wanita itu adalah pelacur.
(HR. An-Nasaa'i)

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)

Laki-laki memberi salam kepada wanita dan wanita jangan memberi salam kepada laki-laki. (HR. Ad-Dainuri)

Janganlah kamu duduk-duduk di tepian jalan. Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, kami memerlukan duduk-duduk untuk berbincang-bincang." Rasulullah kemudian berkata, "Kalau memang harus duduk-duduk maka berilah jalanan haknya." Mereka bertanya, "Apa haknya jalanan itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Memalingkan pandangan (bila wanita lewat), menghindari gangguan, menjawab ucapan salam (dari orang yang lewat), dan beramar ma'ruf nahi mungkar." (Mutafaq'alaih)

Akan tiba satu jaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata. Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta mas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah. (HR. Ad-Dailami)

Rasulullah bersabda dengan membawakan firman Allah dalam hadits Qudsi: "Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya."
(HR. Al Hakim)


Rabu, 16 November 2011

Kisah Sesendok Madu




Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah iniadalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatuketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkanagar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendokmadu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncakbukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebutdan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatucara untuk mengelak, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu.Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mataseseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akandiisi madu oleh seluruh warga kota."

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejanaternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambilmembebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalamberbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam,memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi:"Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allahdisertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yangmengikutiku (QS 12:108)Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai daridirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian diamelibatkan pengikut-pengikutnya.

"Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali padadirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin(pengikut-pengikutmu) (QS 4:84)Perhatikan kata-kata "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri." NabiMuhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudiansusulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin danbertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orangharus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikanbejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.

Pelita Hati - M. Quraish Shihab

Sabtu, 12 November 2011

Untuk Generasi Muda Shaleh Shalehah ..





Setelah itu, Mentoring ...





Rihlah Kali Ini ... (Sebuah Catatan dan Pesan)



Meniti Perjalanan Menuju Allah

“Meski telah lama kutinggalkan rimbunnya bambu, disetiap tiupan seorang gembala selalu kusenandungkan rintih kerinduan, agar semua pengembara yang melintasi ladang tahu; asal-muasalku dan apa arti keberadaanku.”

Ilahy, Engkau lah yang menjadikanku untuk sesuatu yang aku tak tahu kecuali setelah Engkau beri tahu; itupun tak mesti aku mengerti sepenuhnya, kecuali sekedar daya dan kapasitas yang Engkau berikan padaku untuk memahami. Jika bukan karena pertolonganMu, tidak mungkin aku tahu setitik debu pun; lantas bagaimana mungkin aku berani mendongak ke langit apalagi berani memanjatnya.



Ilahy, siapakah aku yang lahir dari setetes air kehinaan, muncul dari ketiadaan yang tak mungkin dibayangkan, lalu Kau angkat aku ke derajat paling mulia dari seluruh makhluq Mu, Kau tuntun aku meniti tingkat-tingkat cahaya, Kau ampuni setiap kesalahan yang aku lakukan selama aku masih menginginkan Mu; ya, aku menginginkan Mu, karena sesuatu yang sungguh aku tak tahu, kecuali sebatas apa yang Engkau beri tahu, dan pastilah Engkau sendiri yang menyematkan keinginan itu di hatiku, lalu membuatku menginginkan Mu, lantas bagaimana mungkin aku berani berkata-kata dihadapan Mu, kecuali sekedar sedikit kekuatan untuk menyebut nama Mu dengan tertatih, sembari menundukkan kepala dalam-dalam.



Ilahy, bagaimana debu ini mampu menemui Mu? Bagaimana aku mampu menyatakan aku mencintai Mu, sementara Kau sendiri yang menghembuskan cinta itu ke dalam hatiku sembunyi-sembunyi, Kau yang membuat aku mencintai Mu; tentu saja dengan cinta terbatas yang aku mengerti, sebagaimana pengertian yang Kau berikan padaku, dan pasti tak sepenuhnya aku bisa memahami. Engkau memang meliputi segala sesuatu, namun bagaimana mungkin aku berani mengatakan aku adalah Engkau, sebagaimana seorang anak kecil pun tahu bahwa setiap mawar adalah bunga, bukan setiap bunga adalah mawar. Maka, bagaimana debu ini mampu menyesap air laut Mu, kecuali sebatas tetes yang Kau tuangkan ke dalam mulut lancangku dan lidah hinaku; itupun sebatas daya sesapku yang pasti tak sepenuhnya aku bisa menyesap.



“Akhirnya ku duduk di sudut kecil ladang itu, menggigil dalam kerinduan, tertatih menyebut, “Ilahy … Anta Maqshudy … Wa Ridloka … Mathluby…”.”



Muhammad Zainur Rakhman, Mantyasih.




Selasa, 02 Agustus 2011

Senin, 25 Juli 2011

Empat Puluhan Kader Baru FUKI

  1. Nurul Mutmainah
  2. Moniqe Laila Rizqy Awanda
  3. Desi Wulandari
  4. Imas Rakhmawati
  5. Wahdah Nur Miladiyah
  6. Seli Nur Anggraeni
  7. Santi Lestari
  8. Nining Cahyani
  9. Alfiatun Nisa
  10. Titin Supriyatin
  11. Murni Setyo Asih
  12. Windya Agustina Ramadhan
  13. Nuri Palupi
  14. Rizki Septiana. A
  15. Lirih Indriyati Saputri
  16. Inayaturrokhmah
  17. Eti Sulistiawati
  18. Siti Nur Azizah
  19. Nur Hanifah
  20. Ika Adiningrum
  21. Nur Azhizah
  22. Roro Anggito Mukti
  23. Maria Ulfah
  24. Dewi Setio Wati
  25. Nofi Zakiyati
  26. Wahyu Sariatin
  27. Khusnul K.
  28. Nur Fitriani
  29. Salasintia R.
  30. Ismail Khasan
  31. Ria Febriati
  32. Inas Masyrofatur R.
  33. Nuning Puji Panuntun
  34. Tutus Khanifah
  35. Tri Murniasih
  36. Adiatma Felaeli
  37. Amy Paniti
  38. Ana Khoirun Nisa
  39. Almas Imroatun Najib
  40. Fauziah Jihan Pratifi
Nama-nama di atas, baru sebagian dari keseluruhan siswa-siswi yang mendaftar di FUKI, bagi yang belum menyerahkan formulir yang telah diisi, silahkan menyerahkan ke pengurus FUKI, untuk ditindak lanjuti. Selamat bagi mereka yang sudah bergabung!

"Yallah, mudahkanlah kehidupan dan cinta bagi anak-anak yang namanya tertulis di atas; alirkan cahaya di kedalaman jiwanya; jadikan mereka sebagai hamba-hamba kesayangan Mu; yang selalu Kau tatap dan senantiasa Kau temani dengan penuh Cinta Kasih; dan jadikan kami semua sebagai hamba-hamba yang bersaudara. Amin"

JAWABAN ANALISIS KEPRIBADIAN NEW FAKAISER

Perhatikan baik-baik, ingatlah apa yang kamu pilih dan kamu isikan pada form pertanyaan hari sabtu kemarin.

1. Memilih segitiga berarti cenderung menyukai ilmu, segilima berarti senang bergaul, supel, dan punya banyak kawan, persegi berarti senang dengan kerapian dan kebersihan, sedangkan lingkaran berarti memiliki kecenderungan seksual yang cukup tinggi.

2. Urutan yang kamu lakukan menunjukkan prioritas hidupmu: kuda maknanya adalah kerja keras, kejantanan; macan berarti kepemimpinan, kekuasaan, dominasi; merpati berarti cinta dan jodoh; kura-kura berarti ketenangan dan kebijaksanaan; burung merak berarti kemewahan, kebanggaan diri, ketenaran; semut berarti kekeluargaan dan persahabatan; sedangkan naga berarti kekayaan, kekuatan, kejayaan.

3. Siapapun yang terbayang dalam warna merah, maka dia adalah yang sangat Anda cintai. Hijau adalah mereka akan selalu Anda ingat dan butuhkan dalam jangka panjang, sedangkan putih adalah mereka yang setipe, seide, memiliki kecocokan dengan Anda.

4. Citra Anda tentang kopi berkaitan dengan kehidupan seksual Anda. Sedangkan, gambaran Anda tentang lautan menunjukkan keseluruhan hidup Anda (bagaimana Anda memandang hidup Anda sendiri).

Silahkan Anda renungkan, dan jadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengoreksi diri Anda dan membuat diri Anda lebih baik.

Minggu, 24 Juli 2011

Getar Puisi F.J. Prativi (Fije Tivi)




Fauziah Jihan Prativi
Kelas 10-7


KEAGUNGAN ILAHII

Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,

Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti

Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!

Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,

Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?

Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa


Bayang-Bayang Nabi

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang - arang lemah" jawabnya

Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
"Bersabarlah, dan tetaplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"

Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?

"Wahai ummatku...
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?"



Percikan Ikhlas



saya menuntun ilmu bukan sekedar berbangga
saya menuntun ilmu untuk ke Surga
saya bekerja bukan sekedar untuk mencari harta
saya bekerja untuk ke surga
saya berbakti kepada orang tua bukan sekedar balas jasa
saya berbakti kepada orang tua untuk ke Surga
saya kembali pulang bukan sekedar nostalgia
saya kembali pulang untuk ke surga
ku pilih kamu bukan sekedar cinta
ku pilih kmu untuk ke surga
ku jauihi yang lain bukan karena tak suka
ku tinggalkan yg lain karena takut dosa


Hujan

Hujan ….
Kabarkan pada dunia lewat tetes tirta
Betapa besar karunia-NYA … sungguh agung tiada terkira
Wahai angin sepoi yang tak ubah laksana beliung
Sapalah mereka yang mulai melalaikan-NYA
Tegurlah mereka … insan yang kian jauh tuk tunaikan hak-Nya
Duh …
Bumi yang kini terbasahi …
Peringatkanlah para durjana yang kian merajalela
Tampakkanlah olehMU bahwa kegagahan hanyalah hiasan semata
Buktikanlah apa yang mereka damba adalah hal sia-sia
Rimbun perdu nan hijau …
Bergoyang ikuti alur sang bayu …
Kian cepat lalu tumbang
Ingatlah wahai para penghuni sementara
Seberapa besar jayamu sekejap pun pasti kan sirna…
Hilang dalam sekejap …
Musnah tak berbekas
Apa yang kau bangga
Jika dengan air saja jadi merana
Apa yang kau harap
Bila tanah telah meratakan semuanya..
Apa yang kau impi tatkala sang bayu tiada lagi tersenyum berseri …


Senin, 27 Juni 2011

FORMULIR PENDAFTARAN ANGGOTA FUKI

Silahkan diperbanyak sesuai kebutuhan. Bisa diformat dalam warna hitam-putih.

Minggu, 26 Juni 2011

KETENANGAN



KETENANGAN

Ki Ageng Mantyasih


Perahu kehidupan manusia tidaklah selalu ditemani angin yang sepoi dan ombak yang santai. Selalu saja ada badai dan ombak yang garang menerjang. Seorang teman pernah mengatakan bahwa ia sedang banyak masalah, pusing, dan ia memohon agar Allah memberikannya jalan keluar dan solusi dari masalah yang ia hadapi. Saya sarankan padanya, sebaiknya ia meminta ketenangan, karena ketenangan adalah karunia Allah yang mahal harganya. Solusi bisa jadi datang dan diberikan, namun jika ketenangan tidak dilimpahkan ke dalam jiwa, barangkali solusi dan jalan keluar tersebut tidak akan terlalu memuaskan. Karana selalu merasa ada yang tersisa. Selesainya masalah, tidak mendatangkan ketenangan, itu adalah masalah besar. Oleh karena itu, saya katakan kepadanya, jangan meminta kepada Allah untuk menyelesaikan masalahmu, tapi mintalah ketenangan, kekuatan, kesabaran, dan ampunan. Barangkali apa yang menurut perkiraan kita buruk, belum tentu buruk menurut Allah.

Sebenarnya, selama Allah tidak meninggalkan kita, tidak ada yang mesti terlalu kita khawatirkan. Apapun yang terjadi kepada kita, selama kita rela, dan bertambah mendekat kepadaNya, itu justru anugrah yang tak ternilai harganya. “Jika seorang hamba tidak bisa diingatkan dengan kenikmatan, maka Allah akan ingatkan dengan penderitaan”, begitulah kaidahnya. Barangkali ujian syukur jauh lebih berat ketimbang ujian sabar, sehingga Allah buka pintu sabar untuk kita, karena tatkala Allah buka pintu syukur untuk kita, kita hanya termangu dan tak segera memasukinya. Jadinya, karena Allah kepengin selalu dekat dengan hamba-hamba Nya (padahal kita yang sangat membutuhkannya hm..), Allah buka deh, pintu sabar. Allah kirim tuh penyakit ke tubuh kita; Allah kirim orang-orang yang berbuat zalim dan menyakiti kita; Allah kasih kita kegagalan, dsb. Semua itu semata agar kita kembali kepada Nya. Namun, seringnya kita justru berburuk sangka, dari mulai mempertanyakan, kenapa sih Allah bikin aku kayak gini, sampai mengatakan Allah nggak adil, dsb ..

Nah, agar kita senantiasa diberikan ketenangan, marilah kita dawamkan zikir, marilah kita shalawatan, marilah kita mendaras al Qur’an. Biasakan dalam sujud kita, untuk menambahkan bacaan, “ subbuhun quddusun rabbuna, wa rabbul malaaikati wa rruh”, “rabbi, inni dholamtu nafsi, faghfirlii dzanbii, fa innahu laa yaghfiru dzdzunuuba illa anta”. Mudah-mudahan kita senantiasa dilimpahkan permata mahal bernama “ketenangan”. Mudah-mudahan kita menjadi hamba—hamba kesayangan Allah. Amin.


Salam Pamuji Rahayu.
Mantyasihcenter.blogspot.com